MEDAN (Bisnis.com): Harga tandan buah segar (TBS) sawit di sentra produksi Kabupaten Asahan, Sumut menurun dari Rp1.300 menjadi Rp950 per kilogram menyusul anjloknya harga minyak sawit mentah di pasar global akibat harga minyak bumi yang gonjang-ganjing.
Seorang petani sawit di Kabupaten Asahan Achmad Qudori membenarkan seminggu lalu harga TBS di tingkat petani mulai menurun setelah harga minyak sawit mentah di pasar internasional turun di bawah US$800 per ton sebagai akibat dari melemahnya harga minyak dunia menjadi US$77 per barel.
“Harga TBS di sentra produksi sawit seperti Asahan sudah mulai menurun. Hal ini akan berlanjut terus karena musim panen raya akan masuk Agustus 2010,” ujarnya menjawab Bisnis per telepon hari ini.
Menurut dia, sejak Januari sampai saat ini harga rata-rata TBS di Asahan dan Labuhanbatu tetap di atas Rp1.100 per kilogram karena memang buah sawit mengalami penurunan sekitar 30% akibat musin treck [musim paceklik buah].
Setiap tahun, lanjut dia, kondisinya memang seperti itu, tetapi tahun ini diperparah musim kemarau berkepanjangan, sehingga produksi buah sawit menurun lagi.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut Rinto Gunari membenarkan produksi sawit di sentra-sentra produksi di Sumut memang menurun. “Produksi TBS diperkirakan mulai meningkat mulai Agustus,” tuturnya.
Dia menambahkan penurunan produksi sawit di sentra produksi sawit di Sumut diperparah musim yang tidak menentu, sehingga petani tidak memupuk kebunnya tahun lalu, karena harga pupuk tinggi.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Laksamana Adiyaksa mengatakan, produksi TBS yang lagi memasuki musim treck bukan hanya terjadi di Indonesia, namun di negara produsen sawit lainnya seperti Malaysia mengalami hal sama.
Pasokan TBS yang ketat membuat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional sempat bertahan pada angka US$800 per ton. Turunnya harga BBM, paparnya, berpengaruh signifikan terhadap harga minyak sawit mentah yang kini di bawah US$800 per ton.
“Meski nanti produksi sawit meningkat mulai Agustus, diperkirakan harga CPO di pasar internasional bisa bertahan di bawah US$800 kalau harga BBM terus menurun,” tuturnya. (mrp)
Powered by WizardRSS | Full Text RSS Feeds
Source:Harga tandan sawit turun
JAKARTA (Bisnis.com): Harga sejumlah komoditas pangan berpotensi naik di pasar global seiring terbatasnya produksi dan cuaca buruk yang merusak hasil panen sejumlah komoditas di antaranya beras, jagung, kedelai, dan gandum.
Goldman Sachs Group Inc menyatakan permintaan komoditas terus bertumbuh sehingga menyebabkan berkurangnya persediaan, sehingga akan mengangkat harga sejumlah komoditas dasar.
Cuaca buruk disejumlah negara produsen komoditas juga turut memperburuk pasokan sehingga turut menyumbang kenaikan harga seperti di Indonesia.
Asosiasi pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) menyatakan musim kering di aliran Sungai Mekong di Asia akan memukul produksi beras.
Kawasan itu merupakan sentra bahan pangan utama untuk setengah dari populasi dunia, berpotensi lebih kecil dari estimasi pada tahun ini setelah musim kering di regional Sungai Mekong yang merusak panenan.
FAO menyatakan produksi beras akan mencapai 704,4 juta ton tahun ini atau 470 juta ton dalam bentuk kering giling. FAO sebelumnya pada April memprediksi produksi beras mencapai rekor yakni 710 juta ton.Permintaan global diproyeksi mencapai 461 juta ton berbentuk kering giling atau naik dari perkiraan sebelumnya 454 juta ton.
Musim kering menyebabkan berkurangnya debit air di sungai Mekong hingga ke level terendah 30 tahun di perbatasan Thailand dan Laos, menurut pernyataan pemerintah Thailand seperti dikutip Bloomberg.
Menurut situs Mekong River Commission, sungai ini juga mengalir ke China, Myanmar, Kamboja dan Vietnam dan beberapa area yang dijadikan irigasi tanaman padi yang dikonsumsi 300 juta orang. (fh)
Powered by WizardRSS | Full Text RSS Feeds
Source:Harga komoditas pangan berpotensi naik
SYDNEY (Bloomberg): Yen bergerak menguat terhadap dolar AS untuk periode mingguan dipicu sinyal yang mengindikasikan AS tengah kehilangan momentum sehingga menambah spekulasi Federal Reserve akan menahan suku bunga acuan mendekati nol.
Dolar AS berlanjut merosot untuk periode mingguan ketiga atas euro sebelum laporan mengenai sentimen rumahtangga AS dan laju inflasi selama Juni. Ekonom memprediksi kedua hal itu berpotensi turun.
Dolar Selandia Baru melemah untuk pertama kali dalam dua minggu setelah laporan pemerintah menunjukkan inflasi yang lebih lambat dari perkiraan, sehingga memangkas tekanan pada bank sentral untuk menaikkan biaya pinjaman.
“Pasar semakin was-was dengan risiko merosotnya ekonomi AS. Karena risiko sentimen melemah, maka kemungkinan yen akan dicari,” ungkap Toshiya Yamauchi, senior analis valuta asing Ueda Harlow Ltd, Tokyo.
Yen diperdagangkan pada 87,27 per dolar AS per 10:29 a.m di Tokyo, menguat dari 87,40 di New York kemarin, setelah sempat menanjak 87,22, kenaikan tertinggi sejak 7 Juli. Mata uang Jepang ini naik 1,6% minggu ini.
Dolar AS berada pada US$1,2916 per euro, menguat dari US$1,2950, setelah kehilangan 2,2% sejak 9 Juli. Euro dibeli pada harga 112,73 yen menguat dari sebelumnya 113,17 yen.
Sentimen konsumen AS menurun hingga 74 bulan ini dari 76 pada Juni, menurut survei Bloomberg sebelum rilisnya indeks awal Thomson Reuters/University of Michigan hari ini.
Laju inflasi melemah 0,1% pada Juni, penurunan bulanan ketiga, menurut survei Bloomberg yang berbeda menjelang laporan Departemen Buruh hari ini. (t01/yn)
Powered by WizardRSS | Full Text RSS Feeds
Source:Sinyal lemahnya ekonomi AS dorong yen
MELBOURNE (Bloomberg): Harga minyak mentah turun untuk hari kedua di New York menyusul munculnya skeptimisme bahwa produksi minyak di Teluk Meksiko akan terganggu oleh badai tropis di kawasan tersebut.
Harga minyak jatuh dari posisi tertinggi selama 7 pekan kemarin dipicu oleh prediksi cuaca AS bahwa badai tropis Alex akan bergerak ke arah selatan Teluk dan akan menyebabkan kawasan Meksiko dilandan angin topan pada 1 Juli.
“Sepertinya badai tersebut akan menyusuri lokasi pengeboran dan kilang minyak,”ujar Michael Fitzpatrick, wakil presiden divisi energi di MF Global di New York.
Kontrak minyak mentah untuk pengiriman Agustus melemah US$0,22 atau 0,3% menjadi US$78,03 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pada pukul 8:25 a.m waktu Sydney. Kemarin, kontrak ini melemah US$0,61 atau 0,8% menjadi US$78,25. Sejak awal tahun, kontrak ini telah melemah 1,6%.
Menurut Army Corps of Engineers sekitar 30% produksi minyak dan 12% produksi gas alam diproses di Teluk Meksiko. Di lokasi tersebut juga terdapat tujuh dari 10 pelabuhan tersibuk di AS. Kawasan Teluk Meksiko mengantongi setengah dari total kapasitas kilang minyak di AS.
Menurut estimasi median yang disurvei Bloomberg, jumlah pasokan minyak mentah di AS akan jatuh 900.000 barel pekan lalu dari level 365,1 juta sepekan sebelumnya. Jika ini terjadi, maka penurunan akan menjadi yang pertama dalam tiga pekan terakhir.
Persediaan bahan bakar kemungkinan jatuh 400.000 barel dari level 217,6 juta sepekan sebelumnya.
Penurunan harga minyak juga dipicu oleh menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap euro untuk pertama kalinya dalam 4 hari. Menguatnya nilai dolar AS ini menekan daya tarik bagi komoditas sebagai alternatif investasi. Nilai tukar dolar AS sedikit berubah pada level US$1,2279 pada pukul 8:40 a.m di Sydney.
Sementara itu, tingkat pembelanjaan konsumen di AS naik lebih tinggi dari prediksi para ekonom pada Mei. Hal ini mengindikasikan bahwa industri rumah tangga telah meraih kepercayaan dalam pemulihan ekonomi dan bursa pekerjaan. Departemen Perdagangan melaporkan bahwa tingkat pembelian menguat 0,2% setelah tidak berubah pada bulan sebelumnya. Estimasi median dari 61 ekonom hanya memprediksikan tingkat pembelanjaan konsumen naik 0,1%.
Harga minyak mentah jenis brent untuk pengiriman Agustus melemah US$0,53 atau 0,7% menjadi US$77,59 per barel di bursa ICE Exchange di London kemarin. (t02/yn) Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.
View the Original article
TOKYO (Bloomberg): Yen diperdagangkan mendekati level terkuat dalam 5 pekan terhadap dolar AS karena sejumlah sinyal pemulihan ekonomi global melambat mendorong permintaan mata uang Jepang ini sebagai pelarian investasi.
Yen juga ditutup menuju level tertinggi dalam 2 minggu atas euro terkait laporan produksi industri Jepang turun sementara tingkat pengangguran meningkat. Di sisi lain, laporan hari ini diperkirakan memperlihatkan penurunan kepercayaan konsumen AS.
Euro diperdagangkan mendekati level terendah sejak November 2008 terhadap poundsterling yang dipicu oleh spekulasi perbankan Eropa akan terus mengambil dana dengan bunga tinggi untuk memenuhi utang yang jatuh tempo.
“Karena semakin memburuknya data ekonomi, saya tidak yakin jika para anggota parlemen akan mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan penghematan. Kondisi bias bagi yen untuk naik,” ujar Kazuyuki Kato, manajer departemen keuangan Mizuho Trust & Banking Co.
Yen berada pada 89,39 per dolar AS pada pukul 9.27 a.m di Tokyo, menguat dari posisi di New York kemarin pada 89,37. Yen sempat menyentuh 89.07, yang merupakan level terkuat sejak 21 Mei. Mata uang Jepang ini diperdagangkan pada 109,77 per euro, menguat dari sebelumnya 109,72.
Euro menguat tipis pada US$1,2279 dari US$1,2277, level tertinggi sejak November 2008.
Kementerian Perdagangan hari ini melaporkan produksi pabrikan Jepang turun tipis 0,1% pada Mei, setelah sempat meningkat 1,3% bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran melonjak 5,2% bulan lalu dari sebelumnya 5,1% pada April. (t01/yn) Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.
View the Original article
JAKARTA (Bisnis.com): Harga sejumlah komoditas terpangkas seiring dengan koreksi harga minyak mentah dan saham global karena investor kembali mencemaskan sistem finansial Eropa.
Kecemasan mengenai sistem finansial Eropa kembali meningkat menjelang berakhirnya fasilitas kredit dari Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) pada pekan ini.
Analis Harumdana Berjangka Nanang Wahyudin mengatakan banyak kalangan yang mencemaskan kekurangan likuiditas. Ketidakpastian tentang seberapa banyak dana yang bisa diserap kembali oleh ECB memberi sentimen negatif di pasar.
“Banyak analis memperkirakan pinjaman yang jatuh tempo 1 Juli nanti akan digulir menjadi pinjaman tiga bulan atau lebih pendek, yang dapat mengurangi masalah di sistem,” kata Nanang.
Riset Analis Askap Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan sentimen negatif di pasar juga terpengaruh kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi di China serta Pemerintah China yang mengendalikan harga properti, sehingga menekan harga saham di Asia dan global, serta menekan aset berisiko termasuk komoditas.
Harga komoditas yang terkoreksi pada perdagangan Selasa a.l. minyak sawit mentah (CPO), minyak mentah, tembaga, aluminium dan seng. Indeks komoditas CMCI Composite turun 0,19% atau minus 2,33 poin menjadi 1.240,28.
Harga CPO terus melemah sejak sehari lalu dipicu koreksi harga minyak mentah dunia dan kedelai, sehingga menekan permintaan terhadap bahan bakar alternatif dan minyak goreng.
Untuk kontrak pengiriman September, harga CPO di Malaysia Derivatif Exchange turun 0,8% menjadi 2.381 ringgit (US$736) per ton. Harga sudah terkoreksi 6,8% pada kuartal ini.
Harga minyak mentah juga terpangkas hingga kembali ke bawah level US$78 per barel di New York dipicu kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi akan memangkas permintaan.
Harga komoditas lainnya yang turut terpangkas yakni tembaga, aluminium, seng dan nikel di London Metal Exchange pascaterkoreksinya harga saham di Asia. Tembaga untuk pengiriman tiga bulan terpangkas 2,3% menjadi US$6.711 per ton. Aluminium minus 1,4% menjadi US$2.000 per ton dan seng minus 2,5% menjadi US$1.833 per ton, nikel juga terkoreksi 2,2% menjadi US$20.200 per ton.(er) Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai format hanya dengan mendaftar menjadi member, GRATIS !
Daftar member »
This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.
View the Original article
This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.
View the Original article