Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 23 August 2011 06:35
Di bidang ekonomi, undang-undang korporasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Gorbachev di Uni Soviet bulan Mei 1988 menandai runtuhnya rezim ekonomi komunisme di negeri itu. Tahun berikutnya keruntuhan system ekonomi ini diikuti pula dengan runtuhnya system politik komunisme dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang ditandai dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989. Lantas apa kiranya tanda-tanda keruntuhan system kapitalisme ?, saya sendiri menjagokan keruntuhan Dollar sebagai perlambang runtuhnya kapitalisme itu. Dan kini seperti tahap akhir dari suatu permainan catur, Dollar tinggal memiliki dua langkah lagi sebelum terkena skak mat !.
Skenario kematian Dollar ini pernah saya sajikan link videonya di situs ini melalui tulisan saya The Day the Dollar Died, dalam film yang disiapkan dengan sangat serius oleh NGO National Inflation Association ini digambarkan bahwa Dollar akan mati manakala Quantitative Easing (QE) – bahasa lain untuk mencetak uang dari awang-awang – memasuki tahap QE 4.
Memang the Fed-nya Amerika sangat tidak suka disebut mereka telah melakukan QE 3 saat ini, tetapi tindakan mereka dengan menekan tingkat bunga yang sangat rendah sampai pertengahan tahun 2013 – membuat mereka harus membeli sangat banyak bond – lantas darimana uangnya ?, ya mencetak dari awang-awang tadi alias secara defacto mereka telah melakukan Quatitative Easing tahap 3.
Pasar tidak lagi percaya pidato atau statement, pasar meresponse tindakan dengan tindakan. Bila the Fed melakukan langkah-langkah yang berdampak pada menurunnya nilai Dollar, maka pasar bereaksi langsung dengan membeli asset-aset yang nilainya tidak lagi dipengaruhi oleh Dollar. Bentuk dari reaksi pasar ini antara lain adalah melonjaknya secara luar biasa harga emas sebulan terakhir – karena orang perlu sesuatu yang nilainya mampu bertahan .
Bahwasanya kapitalisme ribawi pasti hancur atau dihancurkan kita yakin karena sudah dikabarkan di Al-Qur’an (QS 2 : 276), masalah waktunya yang kita hanya bisa menduga atau memprediksinya – kita belum bisa tahu persis, tetapi tanda-tandanya nampak begitu dekat.
Megenai kapan waktunya Dollar akan mati ini memang tidak terlalu penting bagi kita, yang lebih penting adalah apakah kita siap menggantikannya bila kapitalisme ikut mati bersama matinya Dollar ini ?, Jangan sampai justru kita ikut menjadi korbannya karena selama ini begitu tergantung dengan system kapitalisme dengan Dollar-nya ini.
Nah agar kita bisa menghadirkan system penggantinya, berikut adalah dua langkah yang menurut saya patut kita persiapkan :
Pertama kita memiliki dua pegangan yang bila kita berpegang pada keduanya dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua pegangan ini tidak lain adalah Al-Qur’an dan Al- Hadits. Persiapan logis untuk hal ini adalah mendalami Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, mendalami pula hadits-hadits sahih sebagai rujukan atas berbagai hal urusan kehidupan tidak terkecuali urusan ekonomi ini.
Kedua harus dipahami bahwa kapitalisme tidak identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Memang banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan di era kapitalisme, tetapi tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bagian dari kapitalisme. Iptek adalah value neutral, bila mereka yang menggunakannya maka ia menjadi instrumen kapitalisme – bila kita yang menggunakannya maka ia bisa menjadi sarana untuk membangun system ekonomi yang mengikuti petunjukNya.
Teknologi web dan social media misalnya, sangat mungkin kita gunakan untuk mengaplikasikan system ekonomi yang memenuhi kriteria di ayat “ …agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang yang kaya saja diantara kamu…” (QS 59 :7). Dengan teknologi misalnya bisa saja pedagang busana kecil bersaing head to head dengan retailer fashion raksasa di dunia maya. Pengusaha perumahan yang hanya memiliki satu dua kluster rumah kecil – bisa saja bersaing langsung dengan perusahaan real estate besar yang tengah membangun kota mandiri, dlsb-dlsb.
Dengan teknologi, kesetaraan akses terhadap pasar dan sumber daya bisa dicapai, tinggal akses terhadap kapital saja yang perlu didandani. Ketika tembok yang terakhir ini – yaitu tembok yang membatasi akses terhadap kapital – berhasil di rubuhkan, akses terhadap kapital menjadi bukan lagi hanya milik golongan tertentu – maka lengkaplah sudah keruntuhan kapitalisme itu. InsyaAlah kita akan siap…!.
Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 17 August 2011 11:20
66 tahun lalu para pemimpin bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaan negeri kita, tentu kita patut bersyukur karena satu jenis penjajahan telah terusir dari negeri ini. Namun perjuangan untuk dapat memaknai kemerdekaan yang sesungguhnya – nampaknya masih akan panjang, karena setelah 66 tahun merdeka-pun rata-rata anak bangsa ini masih secara fisik tumbuh lebih pendek dari seharusnya. Salah satu penyebabnya adalah karena rata-rata kita hanya mampu mengkonsumsi daging kurang dari ¼ dari yang dikonsumsi rata-rata penduduk dunia.
Bahkan bangsa yang menu lauk–pauknya tahu dan tempe ini, ternyata juga belum mampu memproduksi kedelainya sendiri – hampir 4/5 konsumsi kedelai kita adalah kedelai impor – padahal negeri lain yang sama-sama di equatorial belt dan penduduknya tidak makan tahu dan tempe saja mampu memproduksi kedelai yang melimpah sehingga negerinya dijuluki soylandia. Negeri hijau royo-royo yang seharusnya menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya berbagai ternak penghasil susu seperti sapi dan kambing ini, ternyata juga menjadi pengimpor susu bubuk nonfat terbesar di dunia !.
Setelah satu generasi berlalu pasca kemerdekaan, ternyata masih begitu banyak PR kita yang belum bisa kita kerjakan – maka tentu kita tidak ingin mewariskan lebih banyak PR lagi bagi generasi yang akan datang. Mereka barangkali akan menghadapai berbagai masalahnya sendiri yang muncul bersamaan dengan perkembangan jaman, namun jangan dibebani dengan masalah-masalah yang seharusnya bisa kita atasi di jaman kita ini.
Trend semakin pendeknya rata-rata penduduk negeri ini yang bisa menjadi indikator nyata akan kurang berhasilnya negeri ini menyediakan pangan yang cukup dan terjangkau bagi rakyatnya, harus menjadi pemicu bagi kita untuk mampu membalikkan arahnya. Kita tidak boleh membiarkan keturunan yang terus melemah sebagaimana firmanNya : “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya…” (QS 4:9).
Jangan sampai kita menyisakan puing-puing bumi yang telah keropos karena telah dikuras habis sumber alamnya. Jangan sampai kita biarkan bumi menjadi semakin panas, air minum menjadi semakin langka dan udara semakin tercemar karena pohon-pohon di negeri ini habis ditebang – dan tidak cukup upaya untuk menanamnya kembali. Jangan biarkan lahan hijau untuk ternak-ternak penghasil daging dan susu menjadi semakin langka di negeri ini.
Jangan biarkan kesenjangan ekonomi menjadi semakin lebar, diatas kertas pendapatan per kapita meningkat tetapi sejatinya penduduk miskin juga meningkat karena sumber-sumber kekayaan hanya dikuasai segelintir orang saja di negeri ini. Untuk mengatasi hal ini hendaklah kita ikuti petunjukNya : “…Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…”. (QS 59 :7).
Dari ayat-ayat yang saya kutip tersebut diatas, kita pahami sekarang PR utama kita yaitu agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, dan agar kemakmuran itu tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang. Lantas dari mana kita akan mulai mengerjakan PR tersebut ?.
Alhamdulillah kita sekarang hidup di jaman teknologi, di mana perubahan di segala bidang bisa terjadi dengan begitu cepat. Bila Google dan Facebook saja bisa begitu banyak membuat perubahan di dunia, kita yang diberi “…petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu…” (QS 2 : 185) – masak kita tidak mampu membuat perubahan yang lebih baik ?.
Maka pada bulan ini, “…bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an…”, insyaallah bisa menjadi bulan yang sangat tepat bila kita mau mulai merencanakan suatu perubahan yang besar pada diri kita – perubahan yang didasari oleh ‘turunnya’ ayat-ayat Al-Qur’an di hati kita dan mengiringi setiap langkah yang akan kita lakukan kedepan.
Seperti waktu sekolah dahulu, mengerjakan PR akan lebih menyenangkan bila dilakukan bersama teman-teman. Maka PR besar tersebut diatas juga insyaallah akan mulai kita kerjakan bersama-sama, melalui program I’tikaf Wirausaha yang kami beri tema “Membangun Kemakmuran Berbasis Al-Qur’an” pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini.
Selain materi Al-Qur’an, pada acara tersebut bersama-sama peserta kita akan lakukan identifikasi peluang usaha (7I) dengan petunjuk Al-Qur’an, membangun business model, membangun usaha yang memiliki “ruh” dan insyallah juga sampai melakukan financial modeling exercises-nya.
Agar apa yang akan kita diskusikan dan rencanakan selama 10 hari di akhir Ramadhan ini bisa bener-bener menjadi amal yang nyata, maka kami sudah menyiapkan suatu project yang sama sekali baru sehingga bisa diikuti peserta tahap demi tahapnya. Bahkan peserta yang tidak memiliki ide usahanya sendiri dapat menjadi bagian dari project yang kita canangkan ini. Project untuk case study ini kita beri nama HOMYZONE (www.homyzone.com) yang kurang lebih artinya adalah “lingkungan yang nyaman untuk ditinggali”.

Project ini adalah project multi dimensi, kombinasi antara brick and click, kombinasi antara industri jasa, keuangan, manufacturing, agricultural, construction, education dan seluruh aspek lain yang kita butuhkan kini dan akan dibutuhkan oleh generasi yang akan datang. Project yang kita beri tagline “everyone has it” inilah yang kita harapkan bisa menjadi kontribusi kita pada generasi yang akan datang.
Bila orang-orang sesudah kita nanti berdo’a : “…Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…” (QS 59 : 10), mereka akan melakukannya dengan penuh kesungguhan dan tulus ikhlas – bila kita juga bener-bener berbuat yang baik untuk mereka, bila kita bener-bener ikut berperan dalam mempersiapkan ‘kemerdekaan’ yang sesungguhnya bagi mereka. InsyaAllah, Merdeka…!.
Oleh Muhaimin Iqbal
Jum’at, 19 August 2011 05:35
Seperti dalam perjalanan dengan sebuah pesawat terbang, pilot sudah mengumumkan bahwa kita akan memasuki cuaca buruk dan pesawat siap-siap menghadapi turbulensi – maka penumpang dianjurkan mengenakan sabuk pengaman dan duduk di tempatnya. Ada penumpang yang mendengarkan baik-baik pengumuman ini, duduk manis di tempatnya dan mengenakan sabuk pengaman – meskipun ikut cemas tetapi dia selamat. Penumpang lain yang mengacuhkan pengumuman tersebut – tidak mengenakan sabuk pengaman – maka dia bisa benjol terjedot sana-sani ketika pesawat terguncang.
Hampir semua kita seperti penumpang di pesawat tersebut, pesawat yang berupa ekonomi global – design dan produksi IMF, Bank Dunia dlsb, dipiloti oleh Amerika dengan co-pilot para sekutunya, dan di awaki pula oleh berbagai pasar modal dan sejenisnya – selebihnya adalah penumpang.
Beberapa pekan lalu ‘pilot’ sudah mengumumkan seperti pengumuman tersebut diatas, kemudian para ‘awak kabin’ sudah pula berusaha menenangkan para ‘penumpangnya’ – tetapi guncangan-guncangan baru bermunculan dan penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman kembali terjedot-jedot.
Siapakah pelaku pasar yang tidak mengenakan sabuk pengaman dan terjedot-jedot tersebut ?. Mereka adalah para pelaku pasar yang mengandalkan ‘kertas’ dalam pengelolaan assetnya, baik kertas ini berupa uang fiat, saham maupun produk-produk turunannya. Uang kertas US$ misalnya sudah kehilangan daya beli 49 % terhadap emas dalam setahun terakhir – lebih dari 13 %-nya terjadi dalam sebulan terakhir. Dow Jones Industrial Average kehilangan 3.68% nilainya hanya dalam perdagangan kemarin – dan ini bukan yang pertama kalinya dalam sebulan terakhir saja.
Karena harga emas dunia pada umumnya bergerak berlawanan arah dengan bursa saham, maka ketika saham-saham hancur – emas justru melonjak naik, inilah yang Anda dapat saksikan pada trend harga emas sebulan terakhir – termasuk juga lonjakan harga pagi ini, inilah sabuk pengaman Anda untuk sementara ini.
Jadi siapa pelaku pasar yang mengenakan sabuk pengaman ?, ya itulah orang-orang yang sebulan terakhir rame-rame mengamankan dirinya dengan ‘sabuk pengaman’ antara lain berupa emas tersebut. Mereka ikut terguncang dengan roller coaster ekonomi dunia, tetapi tidak ikut terjedot-jedot. Bila hari-hari ini Anda berkunjung ke Logam Mulia – Antam, Anda akan melihat antrian panjang orang-orang yang sedang berusaha ‘mengenakan sabuk pengaman’ ini.
Bagi kebanyakan kita yang hidup dan bekerja di jaman ini, kita sudah terlanjur berada di dalam pesawat yang sedang mengalami turbulensi tersebut diatas. Uang kebanyakan kita adalah uang kertas, seluruh hasil kerja kita di perusahaan tersimpan dalam bentuk tabungan, deposito, dana asuransi, reksa dana, dana pension, unit link dlsb yang semuanya adalah aset kertas. Aset yang dengan mudah terjedot-jedot oleh turubulensi pesawat yang membawanya.
Barangkali inilah jaman yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah diprediksi : “ Sedikit-demi sedikit kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat terdahulu. Sampai-sampai, andaikata mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga ikut mereka memasukinya.” Ada yang bertanya , “ Wahai Rasululah, apakah mereka yang dimaksud adalah Nasrani dan Yahudi ?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi ?” HR. Bukhari Muslim
Karena kita sudah terlanjur berada di dalam pesawat yang sama, dan kita memasuki lubang biawak yang sama pula – maka untuk sementara yang kita dapat lakukan adalah memasang ‘sabuk pengaman’ tersebut diatas.
Namun segera setelah ‘pesawat’ ini akhirnya nanti bisa mendarat dengan selamat, kita bukan hanya ganti pesawat – tetapi kita juga harus ganti tujuan. Tujuan kita tidak lagi sama dengan mereka – yaitu mengejar kekayaan materi semata untuk kehidupan duniawi – kita memiliki tujuan yang lebih jauh lagi yaitu kehidupan kita yang abadi nantinya.
Kita tidak lagi menumpangi pesawat-nya IMF yang dipiloti Amerika dan diawaki oleh para spekulan pasar, pesawat kita adalah syariat agama ini yang dituntun oleh ‘pilot’-nya Al-Qur’an dan ‘co-pilot’ hadits dan sunnah Rasul, dan diawaki pula oleh para ulama yang telah menulis berbagai karya-karyanya di berbagai bidang.
Maka insyaAllah kita tidak akan lagi mengikuti mereka memasuki lubang biawak itu…!.
Oleh Muhaimin Iqbal
Kamis, 26 May 2011 07:10
Entah dari mana sumbernya dan siapa yang mulai, tetapi bagi kebanyakan orang yang bekerja di negeri ini pensiun pada usia 55 tahun. Pensiun juga identik dengan berkurangnya pekerjaan dan pendapatan, maka hari-hari-pun diisi dengan kegiatan yang sekedar ‘membunuh waktu’. Bayangan suram ini yang membuat 9 dari 10 orang bekerja tidak siap untuk memasuki dunia pensiun. Yang jelas pensiun tidak dikenal dalam sejarah Islam, bahkan Uswatun Hasanah kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri justru mulai memimpin serangkaian pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat – yaitu perang pada usia 55 tahun (Perang Badar, 2 H) – pada usia yang sama dengan usia orang sekarang memasuki dunia pensiun !, beliau-pun wafat 8 tahun kemudian tidak seberapa lama setelah agama ini disempurnakan.
Para penerus beliau dari generasi terbaik juga demikian, Abu Bakar meninggal pada usia 63 tahun ketika beliau ‘masih bekerja’ sebagai khalifah. Umar bin Khattab masih menjabat sebagai khalifah ketika beliau meninggal pada usia 63 tahun – dibunuh oleh seorang Majusi. Khalifah ketiga Utsman bin Affan, syahid pada usia 70 tahun pada saat menjabat sebagai khalifah. Ali bin Abu Thalib – pun syahid pada usia 63 tahun ketika masih menjabat sebagai khalifah dan dibunuh oleh golongan khawarij /pembangkang.
Dari kalangan yang tidak menjabat-pun ada contohnya yaitu Abdurahman bin ‘Auf, beliau meninggal pada usia 72 tahun pada saat puncak keberhasilannya berdagang. Oleh karenanya ketika Abdurrahman bin ‘Auf meninggal, beliau meninggalkan warisan yang sangat banyak yang antara lain terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya Dinar yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sekitar Rp 4.8 trilyun untuk kurs uang Rupiah saat tulisan ini dibuat.
Contoh-contoh tersebut diatas adalah yang diambil dari sirah nabawiyah dan sirah para sahabat, bagaimana dengan contoh di Al-Qur;an ?. Ketika semua cobaan berat dalam hidupnya sudah dilalui, Nabi Yusuf Alahi Salam menjadi pemimpin negeri yang makmur ketika negeri-negeri lain paceklik, saat itulah Nabi Yusuf Alahi Salam ingin diwafatkan. Dia ingin diwafatkan tidak karena penderitaan di dalam sumur, atau sedang difitnah oleh istri penguasa – tidak juga ketika sedang di penjara, tetapi justru ketika sedang berada di puncak prestasinya – sebagai pemimpin negeri, ketika penderitaannya berpuluh tahun berpisah dengan orang tuanya berakhir dengan pertemuannya diantara mereka. Keinginan Nabi Yusuf Alaihi Salam untuk diwafatkan ketika sedang berjaya tersebut diabadikan di Al-Qur’an dalam do’anya :
“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS 12 : 101).
Dengan sejumlah contoh tersebut diatas, masihkah kita membayangkan bahwa usia 55 tahun ketika kita memasuki dunia pensiun adalah akhir dari karir atau prestasi kita ?. Bila usia harapan kita adalah usia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sejumlah sahabat beliau yang meninggal pada usia 63 tahun – maka masih ada waktu rata-rata 8 tahun untuk berkarya maksimal. Bila usia harapan kita secara statistik di Indonesia adalah 71 tahun, maka masih ada waktu dua kalinya yaitu 16 tahun untuk berkarya maksimal .
Berangkat dari realita di masyarakat sekarang – bahwa ada begitu banyak sumber daya insani yang belum termanfaatkan secara optimal – yaitu para professional dari berbagai bidang pekerjaan dan keahlian – yang telah memasuki usia atau menjelang usia 55 tahun tersebut, kami di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin sedang merancang program yang kami sebut program PensionReady !.
Program yang terdiri dari training, mentoring, coaching and resources management ini intinya adalah wadah untuk saling berbagi ilmu, ketrampilan dan pengalaman, serta wadah untuk membangun sinergi multi disiplin – agar kita semua dapat beramal secara maksimal sampai akhir usia seperti contoh-contoh tersebut diatas.
Wadah ini juga merupakan bentuk ikhtiar maksimal yang merupakan aktualisasi dari do’a-do’a kita :
“Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih”, “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan yang terbaik dari hariku adalah hari ketika aku bertemu denganMu.” Ayo siapa mau bergabung ?.
<div
Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 11 May 2011 07:14
Suatu saat Gubernur Mesir Amru bin Al-‘Ash melapor kepada Khalifah ‘Umar bin Khattab bahwa dia telah membangun sebuah rumah khusus untuk Khalifah bila berkunjung ke Mesir, letaknya di sebelah masjid terbesar yang sudah dibangun terlebih dahulu. ‘Umar bukannya senang dengan hal ini, malah menjawab dengan sangat tajam : “Untuk apa engkau bikinkan aku rumah di Mesir sedangkan aku tinggal di Hijaz ? !. Ubah rumah itu menjadi pasar bagi kaum muslimin !.” ( dari kitab Futuh Misr karya Ibn ‘Abdul Hakam).
Lebih dari empat belas abad kemudian, kita di Indonesia merindukan ada pimpinan-pimpinan negeri, wakil-wakil rakyat yang mau mencontoh generasi terbaik hasil didikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam seperti contoh dalam kisah tersebut diatas. Kita rindu misalnya ada wakil kita di DPR yang bisa bilang begini “Untuk apa kami dibuatkan kantor yang megah, lha wong tempat kami seharusnya bersama rakyat untuk mendengarkan suara mereka, menyelesaikan masalahnya, dan berbagi rasa penderitaannya…”.
Mengapa hal yang kita rindukan tersebut tidak terjadi ?, di mana mulainya terjadi penyimpangan dari contoh-contoh yang begitu agung, yang kisah-kisahnya masih sering kita baca tetapi kok tidak membekas pada perbuatan kita ?. Lagi-lagi saya mau menyalahkan penjajah – sebagai sumber awal rusaknya sikap para priyayi hingga jaman ini. Penjajahan 4.5 abad oleh Portugis dan Belanda-lah yang membuat kita terputus dalam sikap dan budaya dari tauladan-tauladan kita, terputus dari uswatun hasanah kita beserta generasi awal umat ini yang mendapatkan pendidikan langsung dari beliau.
Di masyarakat pedagang – tidak dikenal gaji dan berbagai fasilitas lain yang dibiayai oleh negara – hanya segelintir orang yang memang waktunya diambil oleh negara sepenuhnya yang kemudian di gaji – lihat cerita tentang Abu Bakar dalam tulisan sebelumnya. Ini berbeda dengan gaji yang kemudian diberikan oleh Kumpeni kepada para priyayi, gaji dan fasilitas menjadi semacam hak – yang bahkan bisa diwariskan !, terlepas dari apakah yang diberi gaji tersebut melaksanakan tugas atau tidak, terlepas dari apakah pewaris tersebut capable atau tidak. Perhatikan kesamaannya hal ini dengan kaderisasi politik berbasis keturunan yang sangat marak di negeri ini hingga kini !.
Walhasil, karena kita mencontoh yang keliru ini – hampir setiap hari di media ada berita tentang gaji pemimpin dan wakil rakyat, fasilitas-fasilitasnya, gedungnya, perjalanan keluar negerinya dlsb. dlsb. yang semua terkait dengan ‘hak’ mereka atas uang rakyat. Sedangkan buah dari pelaksanaan ‘kewajiban’ mereka tehadap rakyat ini yang belum kita dengar atau rasakan.
Lantas bagaimana seharusnya ini bisa diluruskan ?. Mudah diteorikan atau diwacanakan tetapi pelaksanaannya tentu tidak mudah. Bila kita bisa kembali ke contoh-contoh dari uswatun hasanah kita dan generasi awal umat ini, kemudian melatih sikap dan tindak kita menyerupai yang mereka lakukan – mudah-mudahan kelak akan lahir kembali generasi pemimpin atau wakil rakyat yang seperti Abu Bakar yang karena tidak meminta dan bahkan membayangkan dapat gaji saja tidak – masih berangkat ke pasar sehari setelah diangkat jadi khalifah, seperti ‘Umar yang tidak mau dibangunkan rumah di awal tulisan ini – dan segudang contoh-contoh mulia lainnya.
Bagaimana melahirkan generasi semacam ini ? ya lagi-lagi meniru generasi terdahululah dalam segala aspek kehidupannya termasuk bagaimana cara mencari nafkahnya.
Contoh kongkrit untuk hal ini adalah apa yang dilakukan oleh komunitas business Tangan Di Atas, mereka memiliki visi yang mulia yaitu menjadi pengusaha kaya yang gemar memberi kepada sesamanya. Nampaknya ini diilhami oleh hadits : “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, tangan yang diatas adalah tangan pemberi sementara tangan yang dibawah adalah tangan peminta-minta” (HR. Bukhari – Muslim).
Saya sendiri berharap banyak dari anggota komunitas ini yang begitu besar, saya pernah mengisi dalam salah satu acara mereka – dan nuansa akan lahirnya generasi seperti Abu Bakar dan Umar tersebut diatas mulai terasa – nuansa seperti ini yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya ketika menjadi eksekutif perusahaan besar sekalipun.
Kita tidak pernah mendengar misalnya di Indonesia ada eksekutif di kalangan swasta, pejabat pemerintah atau wakil rakyat – yang mengalah untuk tidak menerima dahulu gajinya atau haknya yang lain , sebelum seluruh anak buahnya atau rakyatnya menerima haknya terlebih dahulu.
Sebaliknya di lingkungan para (calon) pengusaha atau pedagang seperti pada komunitas tersebut, tidak sulit misalnya menemukan anak muda berusia awal 20-an yang setiap bulannya berjuang untuk bisa menggaji karyawannya dahulu – sedangkan dianya sendiri paling akhir mengambil haknya, kadang tidak dapat juga tidak mengapa asal semua karyawannya sudah dapat gajian – dia sudah senang !.
Melihat tumbuhnya komunitas seperti ini – komunitas yang sangat ingin untuk menaruh tangannya diatas – saya merasa optimis, masih ada harapan di negeri ini untuk melahirkan generasi yang membangun budaya itsar – mementingkan orang lain(saudaranya) lebih dari dirinya sendiri.
Semoga mereka bisa bersabar dan istiqamah di jalanNya, dan semoga mereka menjadi seperti generasi yang dipuji langsung oleh Allah “…dan mereka mengutamakan yang lain atas diri mereka sendiri, walaupun mereka memerlukannya (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung…” (QS 59 : 9). Amin.
<div
Oleh Muhaimin Iqbal
Jum’at, 20 May 2011 07:23
Salah satu buku yang selesai saya baca pada long week-end pekan lalu adalah buku berjudul “WIN” karya Dr. Frank I. Luntz (Hyperion, New York, 2011). Penulis ini adalah professional kondang dibidang business communication, terlibat dalam 2000-an survey dan juga consultant pada lebih dari dua lusin perusahaan-perusahaan top dunia Fortune 500. Isi dari buku ini sendiri adalah semacam summary dari pribadi sukses dari segala bidang mulai dari tokoh-tokoh dunia business, olah ragawan, artis, sampai politikus. Meskipun kriteria sukses atau kriteria untuk menjadi pemenang ini bisa saja berbeda dengan kriteria kita, saya pikir tidak ada salahnya kita mengambil pelajaran dari para pemenang di dunia lain tersebut.

Dari pengalamannya selama hampir seperempat abad berurusan dengan tokoh-tokoh pemenang di berbagai bidang, Dr. Frank menyimpulkan ada 15 karakter yang secara umum dimiliki oleh para pemenang tersebut :
1. Kemampuan untuk mengelola dimensi manusia dalam setiap situasi.
2. Kemampuan untuk membuat ‘pertanyaan’ yang tepat pada waktu yang tepat.
3. Kemampuan untuk melihat ‘sesuatu yang belum ada’ tetapi akan dibutuhkan manusia nantinya.
4. Kemampuan untuk memahami tantangan dan solusinya dari berbagai sudut pandang.
5. Kemampuan untuk membedakan mana-mana yang esensial dari mana-mana yang penting.
6. Kemampuan untuk berbuat lebih (do more) dan lebih baik ( do better).
7. Kemampuan untuk mengkomunikasikan visinya dengan penuh semangat (passion) dan meyakinkan.
8. Kemampuan untuk terus bergerak maju ketika orang-orang di sekitarnya menyerah.
9. Kemampuan untuk ‘nyambung’ (connect) dengan orang lain secara spontan.
10. Memiliki keingin-tahuan yang tinggi (curiosity) untuk sesuatu yang belum diketahui (unknown).
11. Memiliki gairah dan penuh semangat (passion) untuk petualangan hidup ( life adventure).
12. Memiliki chemistry yang pas dengan orang-orang yang bekerja dengannya.
13. Kerelaan untuk gagal tanpa harus patah semangat untuk bangkit dan mencoba lagi.
14. Percaya pada kekuatan lain diluar dirinya.
15. Memiliki semangat hidup yang tinggi.
Bila Anda memiliki keseluruhan atau setidaknya sebagian besar dari karakter untuk menjadi pemenang ini, maka besar peluangnya untuk Anda-pun bisa menjadi pemenang dibidang Anda masing-masing.
Lantas bagaimana Anda bisa membangun karakter para pemenang tersebut bila saat ini Anda belum memilikinya ?. Dr. Frank merumuskannya dalam 9 P sebagai berikut :
1. People-Centeredness ( Fokus Pada Manusia)
Siapapun Anda, apapun yang Anda lakukan, produk apapun yang akan Anda jual, pengaruh apapun yang ingin Anda tebarkan – semuanya adalah berhubungan dengan manusia. Dan manusia seperti kita semua, bukan sekedar angka dan bukan sekedar objek (untuk kepentingan apapun), kita semua adalah pelaku yang memiliki keinginan kita sendiri, perasaan kita sendiri dan keputusan-keputusan yang tidak bisa di generalisir.
2. Paradigm Breaking ( Perubahan Paradigma)
Perbuatan atau kerja biasa-biasa tidak akan melahirkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang luar biasa, yang merubah kehidupan manusia secara dramatis adalah buah kerja luar biasa. Diperlukan perubahan paradigma dalam Anda bekerja, dalam berpikir dan melihat sesuatu untuk merubah karya yang ordinary menjadi extra- ordinary.
3. Prioritization (Mampu Membuat Prioritas)
Para pemenang memperoleh keberhasilannya karena mereka mampu mengelola resources yang dimilikinya secara optimal, mampu membedakan mana-mana yang harus dilakukan (must be done) dari apa-apa yang sebaiknya dilakukan (should be done).
4. Perfection (Kesempurnaan)
Para pemenag tidak cukup puas dengan kerja baik atau hasil yang baik. Selama sebuah karya masih bisa diperbaiki, maka karya tersebut akan terus diperbaiki. Ketika orang lain puas dan bangga dengan pencapaiannya, para pemenang justru mencari kelemahan atau kekurangan dari pencapaian tersebut untuk bisa diperbaiki lagi secara terus menerus.
5. Partnership (Kemitraan)
Tidak ada satu-pun orang yang sempurna, maka para pemenang adalah orang-orang yang tahu akan kelemahannya dan menghargai orang lain dengan kelebihannya. Para pemenang adalah orang-orang yang mudah bekerja sama dengan orang lain dalam tingkatan yang sama – saling membutuhkan dan saling memberi.
6. Passion ( Gairah dan Penuh Semangat)
Para pemenang membangun gairah dan penuh semangat atas apa saja yang dilakukannya. Mereka memiliki tujuan atau target yang jelas dan dapat menjabarkan ke orang lain dengan jelas pula. Lebih dari itu para pemenang juga mampu menyemangati orang lain untuk berbuat mencapai tujuannya.
7. Persuasion ( Meyakinkan)
Para pemenang tidak hanya berharap, tetapi juga mampu terus meyakinkan orang lain untuk memahami apa yang dia ingin capai. Dia bisa merubah orang-orang yang menentang gagasannya (rejecters) tahap-demi tahap menjadi sekedar tidak setuju (disagreeables), menjadi netral ( tidak menerima tetapi juga tidak menolak), menjadi menerima (Accepters) atau bahkan menjadi penganutnya (embracers).
8. Persistence
Para pemenang rata-rata menyadari bahwa hidup bukanlah satu permainan yang ketika dimenangkan terus selesai, bukan seperti produk yang setelah diluncurkan langsung sukses, tetapi hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan berbagai jenis permainan yang berserial. Tidak harus dan memang tidak bisa semuanya dimenangkan, tetapi ketika mereka kalah dalam saru permainan – para pemenang harus lebih banyak memenangkan permainan lainnya.
9. Principled Action
Apalah artinya sebuah kemenangan dalam berusaha, dalam olah raga, dalam ketenaran dunia hiburan dan berbagai kemenangan lainnya bila kehidupan para pemenang tersebut justru mengecewakan dalam diri dan keluarganya. Untuk menghindari hal ini, para (calon) pemenang perlu mendasari setiap perbuatan dan karyanya dengan prinsip hidup yang dipegangnya. Prinsip hidup yang mengedepankan morality, humanity, decency dan kebajikan-kebajikan lainnya – yang akan menuntun kepada kemenangan yang sempurna.
Beruntunglah bagi kita umat Islam ini, kita punya prinsip hidup yang baku sehingga standar kemenangan kita juga baku. Apa standar kemenangan kita ? Allah sendiri-lah yang yang menyampaikan standar ini : “ … barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan ” (QS 3:185). Maka kemenangan yang sesungguhnya inilah yang harus dikejar dengan seluruh kemampuan, resources dan semangat yang ada di diri kita…., InsyaAllah kita bisa menang.
<div



