HomeArchive by category 'Gerai Dinar' (Page 7)

Gerai Dinar - Investasi Cerdas dengan Tabungan Emas

Indahnya Mulai Usaha Dengan Bootstrapping…

Posted in Gerai Dinar on 12th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Selasa, 16 August 2011 08:16

Dalam dunia entrepreneur, bootstrapping adalah istilah yang digunakan bila Anda memulai usaha sendiri  tanpa dukungan pendanaan dari pihak lain diluar diri atau organisasi Anda.  Menggunakan kekuatan sendiri pada umumnya jauh lebih realistik untuk pemula karena Andalah yang tahu seluk beluk usaha Anda dan tahu seluruh faktor-faktor risiko-nya, dengan bootstrapping Anda juga tidak harus mentargetkan hasil yang tinggi – yang biasa dituntut investor bila Anda menggunakan dana pihak lain untuk memulainya.

 

Ilustrasinya begini, bila misalnya Anda memulai usaha yang membutuhkan modal awal Rp 100 juta – dan memberikan keuntungan bersih Rp 20 juta setahun – maka dengan 20% hasil per tahun ini sudah sangat baik untuk usaha pemula. Tetapi bila modal yang Rp 100 juta tersebut dari pihak lain dengan rasio bagi hasil 50/50 misalnya, maka investor hanya mendapat Rp 10 juta setahun dan demikian pula dengan Anda.

 

Hasil yang 10 % setahun kemungkinan besar tidak akan membuat investor senang invest di usaha Anda mengingat faktor risikonya – demikian pula dengan Anda sendiri. Artinya dengan tingkat hasil yang sama, suatu usaha yang layak di danai sendiri belum tentu layak bila di danai orang lain.

 

Mungkin Anda berpikir lha iya … kalau punya modal sendiri tentu lebih menyenangkan memulainya dengan modal sendiri…, namun kalau tidak memiliki modal sendiri – bukankah pilihannya harus menggunakan modal orang lain ?. Jawabannya tidak harus !.

 

Untuk contoh usaha yang memerlukan modal Rp 100 juta tersebut diatas misalnya, bila Anda ingin memulainya tetapi tidak memiliki modal yang Rp 100 juta – haruskah terpaksa melibatkan orang lain ?. Berikut adalah opsi-opsi yang bisa Anda tempuh untuk bisa mencapai hasil yang sama atau mendekatinya – meskipun tanpa modal yang cukup dan tidak perlu melibatkan pendanaan modal dari pihak lain.

 

·       Berjualan dahulu sebelum produksi : sebelum mampu memproduksi produk Anda sendiri, Anda bisa berjualan produk orang lain yang sama atau sejenis dengan produk yang Anda rencanakan. Manfaat-nya Anda akan mulai dapat menguasai pasar tanpa memerlukan modal yang besar untuk memproduksi.

·       Memproduksi dengan fasilitas produksi orang lain : banyak sekali produk-produk yang bisa diproduksi orang lain yang sudah berpengalaman dan memiliki fasilitas produksi yang memadai. Manfaatnya Anda sudah dapat memiliki produksi sendiri tanpa harus memiliki pabriknya.

·       Berjualan dengan tunai : pemula sering under estimate tentang betapa sulitnya menagih hutang/pembayaran – jauh lebih sulit dari menjual barang itu sendiri. Maka penting untuk hanya menjual terhadap pembeli yang mampu dan mau membayar tunai, manfaatnya jelas – modal yang terbatas akan berputar cepat.

·       Membiayai usaha dengan pesanan dimuka : bila produk barang atau jasa yang Anda jual bener-bener unggul – sangat bisa jadi customer Anda bersedia membayar  di depan – sebelum barang atau jasa Anda di deliver. Manfaat-nya jelas, Anda tidak perlu memerlukan modal untuk memproduksi barang atau jasa karena customer Andalah yang memodalinya.

·       Dan berbagai cara lain yang bisa dilakukan untuk mampu menghasilkan transaksi bisnis – tanpa harus memiliki modal yang besar untuk memulainya.

 

Meskipun menyenangkan, memulai usaha secara bootstrapping sering dianggap kurang menarik bagi entrepreneur yang berambisi untuk cepat besar.  Jadi melibatkan dana investor diluar diri Anda atau organisasi Anda juga tidak perlu dibuat tabu.

 

Hanya saja bila investor tersebut Anda libatkan setelah Anda berhasil melampaui death valley Anda, insyaallah akan jauh lebih menarik bagi kedua belak pihak. Bagi investor mereka dapat melihat bisnis Anda yang sudah lebih nyata – bukan hanya rencana, dan bagi Anda sendiri Anda akan lebih percaya diri dan  memiliki bargaining position yang lebih baik dalam berhubungan dengan pihak di luar diri atau organisasi Anda.

 

Manfaat lain dari bootstrapping adalah kebebasan mengembangkan ide-ide dan berkreasi sepenuhnya ada pada diri Anda, tanpa beban orang lain yang mungkin mensyaratkan hasil tertentu dari usaha tertentu. Jadi selamat ber- bootstrapping !.

 

<div

Tarawih dan Qiyamul Lail di Jonggol Serasa Di Mekkah atau Madinah…

Posted in Gerai Dinar on 11th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Senin, 22 August 2011 08:34

Bila dana ada dan kesempatan juga ada, nikmatnya shalat tarawih dan qiyamul lail yang panjang tentu tidak mengalahkan di Mekkah dan Madinah. Bukan hanya karena bacaan imamnya yang terasa sangat indah , tetapi pahala yang dijanjikan juga tidak ada di tempat lain. Namun karena I’tikaf di Mekkah atau Madinah hanya bisa dinikmati segelintir orang dari negeri ini, maka kami berusaha menghadirkan suasananya saja di Masjid Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin  Jonggol. Sejak malam 21 kemarin, imam shalat tarawih dan qiyamul lail di masjid ini menggunakan ‘native speaker’ yang sehari-hari memang berbahasa arab – yaitu para hafidz dari Palestina.

 

Ayat-ayat Al-Qur’an di shalat tarawih dan qiyamul lail menjadi sangat indah ketika mereka ini yang membacanya, 40-an peserta I’tikaf di Masjid yang berasal dari seluruh Indonesia ini nampak bisa menikmati betul sholat tarawaih dan qiyamul lail-nya. Bahkan bukan hanya makmumnya yang menikmati, sang imam-pun menuturkan ke saya dia sendiri sangat menikmati bacaannya di Masjid ini pada saat qiyamul lail.

 

Masjid yang jauh dari perumahan penduduk dan jauh dari jalan raya ini, di malam hari sama sekali tidak terganggu oleh suara kendaraan dan kebisingan lainnya. Bahkan di siang hari kalau ada suara motor atau mobil itu karena adanya motor atau mobil yang memang ada urusan dengan komplek Jonggol Farm dimana masjid Daarul Muttaqiin berada.

 Suasana I'tikaf 2011 di Daarul Muttaqiin - Jonggol

Padatnya acara peserta i’tikaf juga membuat waktu terasa berjalan cepat, pagi hari sampai dhuhur peserta kami pandu untuk meresponse ayat-ayat Al-Qur’an dengan action plan yang nyata – dalam bentuk rencana-rencana usaha memakmurkan bumi dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Habis dhuhur dan habis ashar peserta bergiliran memperbaiki bacaan Al-Qur’an dari syeh yang native speaker dan juga imam tersebut diatas. Begitu seterusnya…

 

Di lokasi yang sama, di Masjid ini pula peserta I’tikaf dapat menyimak calon-calon hafidz kecil yang lagi tadarusan dan membacakan terjemahannya secara bergiliran – maka insyaallah lengkaplah ‘hidangan’ Al-Qu’ran hadir di masjid ini.

 

Namun juga kami sadari bahwa apa yang bisa kami sajikan juga bukannya gading yang tak retak, ada kekurangan disana-sini. Namanya masjid di komplek peternakan, tentu sesekali juga ada bau-bau kambingnya. Air untuk keperluan mandi, wudhu dan air minum yang dimurnikan dari satu sumber mata air kecil yang sama – juga sering membuat kami was-was; cukup nggak ya untuk melayani tamu-tamu kami yang datang dari tempat yang jauh – tiada lain hanya karena ingin mencoba beribadah di masjid ini.

 

Terlepas dari semua kekurangan itu, tiada henti kami bersyukur bahwa masjid “gedebog” yang digagas setahun lalu tersebut – kini benar-benar terwujud dan mulai nampak tanda-tanda kemakmurannya. Maka seperti inilah kami memberi inspirasi kepada para peserta I’tikaf yang rata-rata masih menjadi pegawai namun juga ingin pindah kwadrant untuk menjadi para entrepreneur – insyaallah bila mereka secara istiqomah bener-bener melaksanakan action plan-nya yang disusun selama I’tikaf kali ini – mereka akan datang lagi kesini tahun depan sebagai pengusaha…, Amin !.

<div

Modal Usaha : Jualan Cendol Senilai Rp 400 juta, Siapa Mau…?

Posted in Gerai Dinar on 11th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Senin, 15 August 2011 07:44

Di Bazaar Madinah ada dua orang yang bekerja sama dalam penjualan es cendol, yang satu sebagai pemodal dan yang lain sebagai penjualnya.  Modal yang ditanamkan untuk berjualan cendol ini hanya Rp 400,000 karena mereka tidak perlu menyewa tempat. Mereka hanya butuh untuk membeli bahan-bahan cendol, wadah  dan kemasan gelas plastik. Setelah berjalan hampir tiga bulan, saya mencoba menghitung berapa nilai usaha pedagang cendol ini ?. Anda bisa terkejut dengan hitungan nilai usaha ini – karena nilai usaha mereka bisa mencapai 1000 kali dari modal yang ditanamkannya – atau bisa mencapai Rp 400 juta !.

 

Dari mana angka sebesar ini muncul ?. Begini, untuk menilai usaha kita bisa menggunakan pendekatan perhitungan asset yang dimiliki-nya, pendapatan atau potensi pendapatannya, goodwill-nya dlsb. Untuk usaha cendol ini aset tentu sangat kecil nilainya karena mereka hanya punya beberapa peralatan dari plastik dan stok bahan baku. Goodwill-nya boleh dibilang belum muncul sebagai nilai yang berarti karena tidak ada hal yang bersifat unique, temuan baru, perijinan dan sejenisnya – jadi usaha cendol ini boleh dibilang bisa dilakukan oleh siap saja.

 

Maka satu-satunya yang cukup akurat untuk menghitung nilai usahanya adalah dari (potensi ) pendapatannya. Saya lihat dari transaksi di kasir bersama dari account pedagang cendol ini – pendapatan bersih rata-rata mereka sekitar Rp 2,000,000/bulan, atau bila disetahunkan adalah Rp 24,000,000,- !.

 

Dengan mengetahui pendapatan setahunnya  kita bisa menghitung nilai suatu usaha yang nyaris tidak memiliki tangible asset ini. Bagaimana caranya ?, salah satu yang gampang adalah dengan membandingkan – kira-kira dibutuhkan setara modal berapa uang Anda akan memberikan hasil yang sama dengan pendapatan bersih pedagang cendol tersebut , bila diinvestasikan di tempat lain.

 

Karena yang paling umum bila Anda punya uang lebih adalah ditaruh di bank, maka bandingkan misalnya bila Anda sebagai pegawai, memilik bonus tahunan yang banyak – kemudian bonus ini Anda taruh dalam tabungan Rupiah dengan hasil rata-rata 6% per tahun. Maka untuk dapat memberikan hasil bersih rata-rata Rp 2,000,000 sebulan atau Rp 24,000,000,- setahun – Anda membutuhkan tabungan Rupiah sebesar Rp 400,000,000 !.  Kurang lebih setara inilah nilai usaha jualan cendol tersebut diatas.

 

Lebih senang mana Anda memiliki tabungan di bank sebesar Rp 400 juta dengan bagi hasil bersih rata-rata Rp 2 juta sebulan ?, atau memiliki usaha nyaris tanpa modal yang memberikan hasil rata-rata yang kurang lebih sama ?. Pilihan Anda akan tergantung seberapa kuat jiwa entrepreneurship yang ada pada diri Anda ?. Kebanyakan orang yang cukup puas dengan bekerja sebagai pegawai , tentu akan memilih punya uang Rp 400 juta di bank – bahkan ketika mereka sudah pensiun-pun akan tetap cukup puas menaruh uang pensiunnya di bank dengan diambil hasilnya setiap bulan – meskipun setiap saat daya beli uangnya di bank kalah cepat tumbuhnya dengan inflasi.

 

Aset yang besar sekalipun (Rp 400 juta) bila dia berupa wealth reducing assets – tidak membuat pemiliknya tambah makmur. Hal ini dapat Anda saksikan di sekitar Anda, banyak sekali pensiunan pegawai yang memiliki dana raturan juta atau bahkan milyaran Rupiah – namun ketika mereka tidak bisa memutar dananya dengan baik – kemakurannya akan terus merosot.

 

Sebaliknya bagi para entrepreneur, memiliki satu usaha kecil tetapi berjalan baik – akan jauh lebih menggembirakannya ketimbang memiliki uang banyak di bank tetapi tidak bisa diputarnya sendiri. Inilah yang saya sebut wealth producing assets, karena asset yang semula sangat kecil-pun nilainya (Rp 400,000) – ketika diputar menjadi usaha yang berjalan dengan baik nilainya menjadi sangat tinggi – 1000 kalinya atau bahkan lebih, bila mempertimbangkan potensi pertumbuhannya. Pemiliknya makin lama insyaAllah akan semakin makmur.

 

Fenomena tumbuhnya kemakmuran bagi para pedagang atau para pengusaha ini seperti yang juga dicontohkan oleh salah satu sahabat nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dijamin masuk surga yaitu Abdurrahman bin ‘Auf, apakah dia berusaha dengan modal yang besar ?, tidak sama sekali – dia berangkat ke pasar pada hari pertamanya tanpa modal !.

 

Pelajaran apa yang sesungguhnya bisa kita petik dari Abdurrahman bin ‘Auf yang kemudian ditiru oleh salah seorang pedagang cendol di  Bazaar Madinah tersebut ?, bahwa modal bukanlah segala-galanya.  Keberadaannya kadang diperlukan untuk memulai usaha, tetapi tanpanya – tidak berarti orang tidak bisa berusaha !. Wa Allahu A’lam.

<div

Mereka Sudah Merobohkan Rumah-Rumah (System) Mereka Dengan Tangan Mereka Sendiri…

Posted in Gerai Dinar on 9th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Senin, 08 August 2011 08:33

Sudah beberapa pekan ini, orang Amerika – terutama tokoh-tokoh pentingnya selalu gelisah di akir pekan. Bila dua pekan lalu mereka gelisah dengan krisis plafon hutang, ketika plafon hutang ini teratasi – ternyata masalah baru yang tidak kalah seriusnya muncul. Masalah baru ini adalah ketidak percayaan pelaku pasar terhadap ekonomi negeri itu, ini tercermin dari anjlognya saham-saham di bursa pekan lalu justru setelah plafon hutang disepakati naik. Ketidak percayaan ini bahkan juga  di confirm oleh salah satu pemeringkat hutang Standard & Poor’s, yang menurunkan credit rating hutang jangka panjang Amerika dari AAA ke AA+ dengan outlook negative – masih mungkin bertambah buruk lagi !.

 

Kejadian penurunan rating yang pertama kalinya sejak Amerika memperoleh AAA nya 70 tahun lalu itu, tentu akan menimbulkan gejolak pasar yang sulit di bayangkan di seluruh dunia. Untuk meminimisasi efek penurunan rating ini bahkan Standard & Poor’s memilih waktu Jum’at malam – ketika semua bursa sudah tutup untuk pengumumannya.  Pagi ini gejolak bursa termasuk harga emas akan sulit dihindari karena efek gempa penurunan rating yang tidak sepenuhnya bisa dimitigasi – sepanjang akhir pekan.

 

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa negeri yang paling kaya dengan GDP per capita rata-rata diatas 4 kali dari GDP per capita dunia tersebut justru menjadi sumber kekacauan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir ?. Perhatikan peta income ratio yang dibuat oleh University of California sekitar 10 tahu lalu dibawah.

 Income Ratio 2000

Ketika Indonesia masih berjuang dalam tiga dasawarsa dengan GDP per capita di kisaran 0.26-0.75 GDP per capita dunia, Amerika secara persisten mimiliki GDP per capita yang lebih besar dari 4 kali-nya GDP per capita rata-rata penduduk dunia. Tetapi inilah ironi kapitalisme itu, di negeri yang penduduk kaya-nya paling banyak di dunia itu – negaranya sendiri mengalami ancaman kebangkrutan yang sangat serius. Mereka sungguh-sungguh dalam simalakama yang luar biasa, ditambah plafon hutang – orang menjadi tahu bahwa negeri itu hanya selamat dengan hutang, tidak ditambah hutang – negeri itu langsung mulai default.

 

Kegagalan ekonomi Amerika yang juga representasi kapitalisme ini akan menjadi epicentrum dari gempa ekonomi global (lagi) yang dampaknya pasti akan kita juga rasakan.

 

Lantas timbul pertanyaan yang mendasar, bila kapitalisme gagal atau sedang menuju proses kegagalan, komunisme malah lebih dulu gagal dua dasawarsa lalu, lantas seperti apa ekonomi yang seharusnya bisa langgeng sampai akhir jaman ?. Bagi kita tentu  solusi ekonomi yang mengandalkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits.

 

Untuk krisis global yang epicentrum-nya di Amerika tersebut misalnya, jawaban Qur’ani-nya ada di penggalan surat Al Hasyr Ayat 7 : “… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”.  Kalau saja kekayaan orang-orang Amerika lebih menyebar, krisis sekarang tidak akan timbul. Negerinya tidak perlu berhutang kesana-kemari untuk membayar gaji para veteran, tunjangan sosial masyarakat yang tidak mampu dlsb.

 

Peluang system (ekonomi ) Islam menggantikan system yahudi ini juga sudah dikabarkan oleh Allah di surat Al Hasyr pula, ayat 2 : “…mereka merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

 

Mereka sudah merobohkan ekonomi mereka sendiri, maka kini waktunya tangan-tangan kaum muslimin untuk menghadirkan system penggantinya. Seperti apa konkritnya ?, inilah yang menjadi PR besar para ahli ekonomi dan praktisi Muslim, para hafidz dan hafidzhah yang mampu meningkatkan interaksinya dengan Al-Quran secara pari purna, tidak berhenti dari membaca dan menghafal, tetapi mampu memahami, mengimplementasikan (mengamalkan) dan mengajarkan setiap petunjuk yang ada di Al-Qur’an.

 

Bila tangan-tangan kaum muslimin tidak berhasil menghadirkan solusi-nya ketika mereka telah merobohkan system ekonomi mereka sendiri seperti yang terjadi saat ini – maka yang akan muncul tetap saja system kapitalisme yahudi dalam bentuk lainnya, lalu kita akan menunggu lagi kapan mereka akan merobohkan kembali system mereka itu dengan tangan mereka sendiri lagi ?. Wa Allahu A’lam.


Saya ‘Bermimpi’ Obama Ke Jonggol…

Posted in Gerai Dinar on 9th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Selasa, 09 August 2011 04:05

Setelah memuat tulisan saya kemarin (08/08/11), saya kembali ‘bermimpi’ – ini cara lain untuk mencapai  sesuatu yang nampaknya memang masih jauh.  Dalam ‘mimpi’ saya kali ini, ada anak (yang pernah tinggal di) Menteng – yang membaca tulisan saya – anak ini sekarang menjadi orang gedean yang bernama Obama. Karena sudah suntug dengan persoalan ekonomi yang dihadapinya, professor-professor ekonomi dari universitas-universitas mereka yang konon terbaik di dunia-pun tidak juga bisa bantu atasi – maka si Obama yang  semasa kecil familiar dengan lingkungan Muslim ini – ingin mencoba cara lain untuk menyelamatkan ekonomi negerinya. Maka dia memerintahkan secret service-nya untuk mengamankan suatu iring-iringan perjalanannya yang tidak biasa, yaitu ke sebuah madrasah kecil di Jonggol – Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin.

 

Di Madrasah inilah dalam ‘mimpi’ tersebut rombongan ini kami terima secara lesehan  - sebagaimana majlis-majlis kami lainnya. Dalam rombongan besar Obama diajak serta menteri luar negerinya yang bersusah payah menyesuaikan kebiasaan tuan rumah dengan berjilbab, menteri keuangan dan juga chairman dari bank sentral-nya (the Fed), adapun dari kami ada  saya sendiri didampingi para ustadz dan para santri yang tengah menghafal dan mendalami Al-Qur’an.

 

Dengan bahasa Indonesia yang (masih) dikuasai-nya cukup baik, Obama menyampaikan maksudnya kurang lebih sebagai berikut : “ …setelah membaca tulisan Anda, kami berpikir untuk pingin tahu lebih jauh – aplikasi dari teori Anda tersebut untuk mengatasi problem yang kami hadapi…”. Kemudian dia meminta menteri-menterinya menjelaskan lebih detil apa yang mereka hadapi. Menteri keuangan mereka menjelaskan tentang bagaimana system ekonomi yang ditempuh selama ini, dilanjutkan penjelasan the fed chairman tentang bagaimana mereka terus mencetak uang dari awang-awang (thin air) selama ini, dan yang terakhir penjelasan menteri luar negerinya mengenai mengapa mereka nyaris bangkrut – karena membiaya perang yang begitu mahal di Iraq, Afganistan, Lybia dan entah mana lagi.

 

Mendengar paparan team ini, kami berdiskusi sejenak dengan para santri dan para ustad. Di antara mereka ada yang bersikeras – jangan dibantu orang-orang seperti ini, mereka selama ini telah kurang ajar sama saudara-saudara Muslim kita di belahan dunia lain, bahkan mereka jelas-jelas bersekongkol dengan musuh abadi umat ini yaitu yahudi laknatullah – mengapa harus dibantu ?.

 

Tetapi kemudian kami ingat, bahwa ulama besar kita yaitu Imam As-Syahid Hasan al Banna  dalam nasihatnya tentang urut-urutan amal pernah menyampaikan bahwa urutan terakhir dari amal kita adalah kalau kita sudah sampai bisa menjadi ustadziyatul ‘alam atau guru bagi dunia – siapa tahu dengan memberi nasihat ke rombongan Obama kali ini – kita bisa mewujudkan hal tersebut. Maka akhirnya kami sepakat untuk memberikan butir-butir solusi aplikatif  bagi ekonomi mereka. Saya yang ditunjuk untuk menjadi juru bicaranya para ustadz dan santri Madrasah Al-Quran ini, akhirnya menyampaikan butir-butir ini ke Obama dan teamnya sebagai berikut :

 

Pertama : “ Anda harus berani menon-aktifkan uang Anda dan menggantinya dengan emas dan perak secepatnya. Semakin lama Anda pertahankan, akan semakin runyam ekonomi Anda dan juga ekonomi dunia. Untuk ini Anda tidak usah susah-susah memikirkan system penggantinya jauh-jauh. Ada LSM di negeri Anda yang siap membantu Anda yaitu GATA, bahkan LSM ini sudah sejak 10 tahun lalu menyiapkan draft pidato Anda untuk malam pembubaran Dollar. Pidato ini harus Anda bacakan ke rakyat Anda Ahad malam Senin sepulang Anda dari sini”.

 

Kedua : “Anda harus merubah segala system peraturan yang ada di negeri Anda agar terjadi pemerataan ekonomi. Agar tidak terjadi sejumlah orang di negeri Anda sangat kaya – tetapi Anda sibuk mencari hutangan baru untuk membiayai tunjangan sosial bagi rakyat Anda yang miskin, para veteran dlsb.”

 

Nggak sabar menunggu penjelasan saya, Obama menyela : “Tetapi bagaimana kongkritnya pak ? ”.

 

Begini,  ada setidaknya tiga sektor yang akan membantu pemerataan ekonomi ini. 

 

Pertama adalah sektor permodalan (capital) : “Di system capitalist Anda , capital adalah for the privilege of few, berjuta orang mengumpulkan uang di bank-bank Anda , tetapi yang bisa mengakses uang di bank tersebut untuk aktivitas produktif hanyalah beberapa orang saja – selebihnya masyarakat hanya menggunakan uang bank secara konsumtif yang membuat masyarkat Anda juga terlilit hutang kartu kredit dlsb. Berjuta orang rela menaruh uangnya di pasar-pasar modal Anda, tetapi pasar modal Anda hanya menjadi seperti casino raksasa – ini yang menjadikan rakyat Anda berjudi dengan modal yang mereka miliki – bukan menggunakannya untuk sektor riil !. Tentang hal ini Anda bisa mengirim team untuk belajar detil tentang koperasi dan BMT di negara-negara yang selama ini Anda sepelekan. Koperasi dan BMT inilah selama ini sudah belajar menggalang dan menggunakan capital secara bersama, capital yang dikumpulkan oleh orang banyak – juga harus available untuk orang banyak”.

 

Kedua adalah sektor sumber daya (resources) : “Jangan sampai sumber daya alam Anda – lagi-lagi hanya dikuasai untuk kepentingan segelintir orang. Fokus pengelolaan sumber daya Anda harus pada manfaat seluruh rakyat Anda. Bila selama ini ada sekelompok pengusaha yang menguasainya secara berlebihan hanya untuk kelompoknya sendiri atau bahkan dikuasai lahannya hanya untuk spekulasi – maka pemerintah Anda harus mencabut hak penguasaannya dan memberikan kepada pihak-pihak yang bisa memakmurkannya untuk kepentingan masyarakat luas.

 

Ketiga adalah sektor pasar: “Tidak mudah untuk rakyat kecil bisa berusaha di negeri Anda. System standar, peraturan, perijinan dlsb. hanya mudah diakses lagi-lagi oleh pengusaha besar. Yang bisa berproduksi dan menjual dagangannya adalah orang yang sudah kaya. Pernah saya lihat di negeri Anda ada petani yang mau menjual sayur-mayur hasil panenannya langsung ke konsumen, malah di gerebeg oleh tentara layaknya petani ganja saja. Anda tuduh petani ini membahayakan rakyat Anda hanya karena menjual sayur –mayur yang belum disertifikasi. Oh, Please deh…Obama !. Anda harus fasilitasi agar rakyat miskin Anda bisa dengan mudah berproduksi dan menjual hasil produksinya – sama mudahnya dengan rakyat Anda yang kaya !. Akses pasar inilah sarana pemerataan kesejahteran rakyat Anda yang paling efektif – agar ekonomi Anda tidak digilas oleh musuh bebuyutan Anda yaitu China !”.

 

Sebenarnya saya mau meng-elaborate penjelasan saya lebih lanjut, tetapi santri-santri kecil kami sudah tidak sabar untuk ikut nimbrung menasihati Obama dengan celetukan-celetukannya : “Anda harus menghentikan perang di negeri-negeri yang bukan urusan Anda” ; “Anda harus berhenti menganggap pesantren-pesantren seperti ini adalah mengajarkan terorisme”. “Anda harus mendukung setulus hati Anda untuk kemerdekaan Palestina” ; “Anda harus berhenti membiayai Israel untuk memusuhi saudara kami di Palestina” ; “Anda harus ber-shahadat…” dlsb.dlsb.

 

Karena banyaknya celetukan yang bener dari para santri ini – sampai team Obama kewalahan mencatatnya. Kemudian saya minta anak-anak diam, untuk memberi kesempatan ustad-ustad ikut bicara.  Maka dengan wibawanya ustadz-ustadz tersebut hanya mengungkapkan dua kata saja yaitu ‘Aslim Taslam,  karena Obama nggak ngerti maksudnya, dia bertanya : “Apa ? ”,  sambil mendekatkan telinganya ke-arah ustad yang mengucapkannya, kemudian ustad tersebut memperjelas dalam bahasa Indonesia ‘Masuklah Islam Agar Anda Selamat !’. Dia mengangguk – tetapi kami tidak tahu apakah karena paham dan akan melaksanakannya atau sekedar ingin menyenangkan kami yang sudah sedari tadi menasihati mereka.

 

Sampai disini saya terbangun dari ‘mimpi’ dengan puas, meskipun hanya ‘mimpi’ – saya bersyukur telah berani ‘bermimpi’ menasihati orang yang konon paling berkuasa di muka bumi ini, namun justru karena kekuasaannya-lah ekonomi dunia kini berada di tebing jurang. Maka dibutuhkanlah nasihat yang tidak biasa untuk mereka, nasihat dari orang kecil di pesantren kecil – tetapi memiliki ‘mimpi’ yang besar – ‘mimpi’ untuk menjadikan santri-santri kami kelak sebagai ustadziyatul ‘alam . InsyaAllah.

 

Inspirasi Solusi Dari “Berita Besar”…

Posted in Gerai Dinar on 9th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Kamis, 25 August 2011 08:15

Ketika kami mencanangkan i’tikaf Wirausaha di Masjid “Gedebog” Daarul Muttaqiin Jonggol dengan tema “Membangun Kemakmuran Berbasis Al-Qur’an”, saat itu kami belum bisa membayangkan solusi besar apa yang kiranya bisa kita hasilkan dalam program i’tikaf kali ini. Namun sejak memasuki Malam ke 25 semalam, insyaallah solusi besar itu mulai terurai di depan mata. Solusi agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah sesudah kita, dan juga solusi agar anak-anak kita tumbuh sama tinggi dengan bangsa lain di dunia ini insyaallah sudah begitu jelas – tinggal menunggu tindakan nyata kita untuk mengimplementasikannya.

 

Salah satu solusi ini adalah hasil diskusi dengan peserta i’tikaf  yang membahas surat An-Naba’ (Berita Besar) ayat ke 16. Ayat tepatnya berbunyi “wa jannaatin alfaafa” yang oleh penterjemah Departemen Agama diartikan sebagai “dan kebun-kebun yang rindang”. Mungkin karena keterbatasan bahasa Indonesia, ayat tersebut diatas diterjemahkan sama persis dengan ayat lain yang berbunyi “wa khadaa iqo ghulba  (QS 80 :30) yang terjemahannya juga  dan kebun-kebun yang rindang” .

 

Sangat bisa jadi Allah mempunyai maksud lain ketika menggunakan kalimat yang berbeda untuk menggambarkan “kebun-kebun yang rindang” tersebut. Bisa jadi alfaafa yang menurut ustadz saya dalam bahasa arab umumnya berarti “berkumpul, bercampur baur, berdekat-dekatan” untuk meggambarkan banyaknya pohon dalam kebun dlsb.; juga berarti nama jenis tanaman tertentu ?.

 

Di dunia ini memang ada tanaman luar biasa yang dalam bahasa Inggris disebut Alfalfa atau dalam bahasa latinnya disebut Medicago Sativa – bisa jadi ini adalah tanaman Alfaafa dalam ayat tersebut diatas !. Karena menurut sejarah tanaman ini sudah ada sejak 6,000 tahun sebelum Masehi , dan dokumen tertua yang ada menjelaksan tentang tanaman Alfalfa ini adalah dokumen di Turki yang ditulis kurang lebih 1300 tahun sebelum masehi. Jadi tanaman Alfalfa memang ada pada saat Al-Qur’an turun !.

 

Terlepas dari kebenaran yang masih perlu dikaji – yaitu apakah yang disebut di Al Qur’an sebagai “wa jannaatin alfaafa” ini adalah “kebun-kebun yang rindang” secara umum, atau secara khusus diarahkan untuk kebun Alfalfa. Yang jelas tanaman Alfalfa ini memang merupakan karunia yang luar biasa dari Allah untuk umat manusia di dunia.

 

Karunia tersebut antara lain adalah :

 

1.     Akarnya yang sangat dalam masuk ketanah, selain menjadi penahan erosi yang sangat efektif juga dapat menyerap hampir seluruh unsur-unsur penting yang ada di dalam tanah.

2.     Memiliki protein yang sangat tinggi, dari sebuah riset di Kroasia, tangkai Alfalfa bisa mengandung protein sampai sekitar 18% ; dan bahkan daunnya bisa diatas 30 %.

3.     Dengan kandungan protein yang sangat tinggi tersebut, maka seluruh hewan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dlsb) akan sangat cepat tumbuh bila diberi makan dari Alfalfa ini.

4.     Bahkan daun Alfalfa memiliki kandungan klorofil yang sangat tinggi yang bermanfaat untuk kesehatan manusia.

5.     Dlsb.dlsb.

 

Lantas apa kaitannya tanaman Alfalfa ini dengan krisis berkurang tinggi-nya anak-anak Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya makan daging ?.

 

Daging dari sapi, kambing dan lain sebagainya akan mudah dihasilkan dengan murah bila ditemukan tanaman yang mengandung protein tinggi seperti tanaman Alfalfa ini. Tidak heran negeri seperti Amerika menanam tambahan sekitar 9.2 juta hektar tanaman ini setiap tahunnya untuk makanan ternak mereka. Nilai ekonomi tanaman Alfalfa di negeri tersebut sangat tinggi ( nomor ketiga setelah jagung dan kedelai) karena menjadi sumber pakan ternak yang sangat efektif ini.

 

Lantas mengapa tidak kita tanam saja banyak-banyak agar kambing dan sapi kita cepat tumbuh – agar daging menjadi murah dan terjangkau oleh seluruh rakyat ?. Tidak mudah memang, beberapa pihak di tanah air sudah mencobanya tetapi belum berhasil.

 

Saat ini kita bisa membeli benih tanaman ini dari luar tetapi yang sudah dibuat infertile oleh produsennya. Inilah jahatnya mereka, mereka tidak menghendaki tanaman yang luar biasa ini tumbuh di negeri seperti Indonesia – agar negeri seperti kita ini tetap tergantung pada negara-negara tersebut untuk terus impor daginng dlsb.

 

Tetapi one way or another , kita harus bisa menumbuhkan tanaman ini banyak-banyak di negeri kita ini, agar kita bisa beternak kambing dan sapi banyak-banyak secara efisien. Agar anak-anak negeri ini mampu makan daging secara cukup kedepannya. Apalagi bila benar Alfalfa ini adalah tanaman yang disebut di surat An-Naba’ tersebut diatas, pasti manfaatnya untuk seluruh umat manusia – tidak hanya bangsa negara maju saja.

 

Melihat potensi yang begitu besar ini, kami mengundang para ahli dan praktisi pertanian di seluruh Indonesia – yang memiliki pengetahuan atau pengalaman langsung dengan Alfalfa ini -  untuk membantu kami membudi dayakan Alfalfa ini secara luas di Indonesia. Lahan percobaan seluas 1 s/d 2 ha sudah kami sediakan di Jonggol untuk ini; sedangkan untuk lahan produksi awal beberapa puluh bahkan beberapa ratus hektar akan kami sediakan di Jawa Timur. Kami terbuka untuk berbagai bentuk kerjasama yang baik untuk membangun kegenerasi yang kuat kedepan, generasi penghafal Al-Qur’an yang minum susu kambing secara cukup dan juga makan daging yang cukup.

 

Siapa tahu Anda bisa menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah besar yang terkait dengan sumber pangan bangsa ini kedepan. Solusi yang petunjuknya sudah begitu jelas ada di Al-Qur’an . InsyaAllah bersama kita bisa !.

Di Ambang Keruntuhan Kapitalisme, Are We Ready…?

Posted in Gerai Dinar on 9th October 2011

Oleh Muhaimin Iqbal
  

Selasa, 23 August 2011 06:35

Di bidang ekonomi, undang-undang korporasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Gorbachev  di Uni Soviet bulan Mei 1988 menandai runtuhnya rezim ekonomi komunisme di negeri itu. Tahun berikutnya keruntuhan system ekonomi ini diikuti pula dengan runtuhnya system politik komunisme dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang ditandai dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989. Lantas apa kiranya tanda-tanda keruntuhan system kapitalisme ?, saya sendiri menjagokan keruntuhan Dollar sebagai perlambang runtuhnya kapitalisme itu.  Dan kini seperti tahap akhir dari suatu permainan catur, Dollar tinggal memiliki dua langkah lagi sebelum terkena skak mat !.

 

Skenario kematian Dollar ini pernah saya sajikan link videonya di situs ini melalui tulisan saya  The Day the Dollar Died, dalam film yang disiapkan dengan sangat serius oleh NGO National Inflation Association ini digambarkan bahwa Dollar akan mati manakala Quantitative Easing (QE) – bahasa lain untuk mencetak uang dari awang-awang – memasuki tahap QE 4.

 

Memang the Fed-nya Amerika sangat tidak suka disebut mereka telah melakukan QE 3 saat ini, tetapi tindakan mereka dengan menekan tingkat bunga yang sangat rendah sampai pertengahan tahun 2013 – membuat mereka harus membeli sangat banyak bond – lantas darimana uangnya ?, ya mencetak dari awang-awang tadi alias secara defacto mereka telah melakukan Quatitative Easing tahap 3.

 

Pasar tidak lagi percaya pidato atau statement, pasar meresponse tindakan dengan tindakan. Bila the Fed melakukan langkah-langkah yang berdampak pada menurunnya nilai Dollar, maka pasar bereaksi langsung dengan membeli asset-aset yang nilainya tidak lagi dipengaruhi oleh Dollar. Bentuk dari reaksi pasar ini antara lain adalah melonjaknya secara luar biasa harga emas sebulan terakhir – karena orang perlu sesuatu yang nilainya mampu bertahan .

 

Bahwasanya kapitalisme ribawi pasti hancur atau dihancurkan kita yakin karena sudah dikabarkan di Al-Qur’an (QS 2 : 276), masalah waktunya yang kita hanya bisa menduga atau memprediksinya – kita belum bisa tahu persis, tetapi tanda-tandanya nampak begitu dekat.

 

Megenai kapan waktunya Dollar akan mati ini memang tidak terlalu penting bagi kita,  yang lebih penting adalah apakah kita siap menggantikannya bila kapitalisme ikut mati bersama matinya Dollar ini ?, Jangan sampai justru kita ikut menjadi korbannya karena selama ini begitu tergantung dengan system kapitalisme dengan Dollar-nya ini.

 

Nah agar kita bisa menghadirkan system penggantinya, berikut adalah dua langkah yang menurut saya patut kita persiapkan :

 

Pertama kita memiliki dua pegangan yang bila kita berpegang pada keduanya dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya.  Dua pegangan ini tidak lain adalah Al-Qur’an dan Al- Hadits. Persiapan logis untuk hal ini adalah mendalami Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, mendalami pula hadits-hadits sahih sebagai rujukan atas berbagai hal urusan kehidupan tidak terkecuali urusan ekonomi ini.

 

Kedua harus dipahami bahwa kapitalisme tidak identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Memang banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan di era kapitalisme, tetapi tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bagian dari kapitalisme. Iptek adalah value neutral, bila mereka yang menggunakannya maka ia menjadi instrumen kapitalisme – bila kita yang menggunakannya maka ia bisa menjadi sarana untuk membangun system ekonomi yang mengikuti petunjukNya.

 

Teknologi web dan social media misalnya, sangat mungkin kita gunakan untuk mengaplikasikan system ekonomi yang memenuhi kriteria di ayat “ …agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang yang kaya saja diantara kamu…” (QS 59 :7). Dengan teknologi misalnya bisa saja pedagang busana kecil bersaing head to head dengan retailer fashion raksasa di dunia maya. Pengusaha perumahan yang hanya memiliki satu dua kluster rumah kecil – bisa saja bersaing langsung dengan perusahaan real estate besar yang tengah membangun kota mandiri, dlsb-dlsb.

 

Dengan teknologi, kesetaraan akses terhadap pasar dan sumber daya bisa dicapai, tinggal akses terhadap kapital saja yang perlu didandani. Ketika tembok yang terakhir ini – yaitu tembok yang membatasi akses terhadap kapital – berhasil di rubuhkan, akses terhadap kapital menjadi bukan lagi hanya milik golongan tertentu – maka lengkaplah sudah keruntuhan kapitalisme itu. InsyaAlah kita akan siap…!.

 

Page 7 of 23: 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12  Last »