Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 09 August 2011 04:05
Setelah memuat tulisan saya kemarin (08/08/11), saya kembali ‘bermimpi’ – ini cara lain untuk mencapai sesuatu yang nampaknya memang masih jauh. Dalam ‘mimpi’ saya kali ini, ada anak (yang pernah tinggal di) Menteng – yang membaca tulisan saya – anak ini sekarang menjadi orang gedean yang bernama Obama. Karena sudah suntug dengan persoalan ekonomi yang dihadapinya, professor-professor ekonomi dari universitas-universitas mereka yang konon terbaik di dunia-pun tidak juga bisa bantu atasi – maka si Obama yang semasa kecil familiar dengan lingkungan Muslim ini – ingin mencoba cara lain untuk menyelamatkan ekonomi negerinya. Maka dia memerintahkan secret service-nya untuk mengamankan suatu iring-iringan perjalanannya yang tidak biasa, yaitu ke sebuah madrasah kecil di Jonggol – Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin.
Di Madrasah inilah dalam ‘mimpi’ tersebut rombongan ini kami terima secara lesehan - sebagaimana majlis-majlis kami lainnya. Dalam rombongan besar Obama diajak serta menteri luar negerinya yang bersusah payah menyesuaikan kebiasaan tuan rumah dengan berjilbab, menteri keuangan dan juga chairman dari bank sentral-nya (the Fed), adapun dari kami ada saya sendiri didampingi para ustadz dan para santri yang tengah menghafal dan mendalami Al-Qur’an.
Dengan bahasa Indonesia yang (masih) dikuasai-nya cukup baik, Obama menyampaikan maksudnya kurang lebih sebagai berikut : “ …setelah membaca tulisan Anda, kami berpikir untuk pingin tahu lebih jauh – aplikasi dari teori Anda tersebut untuk mengatasi problem yang kami hadapi…”. Kemudian dia meminta menteri-menterinya menjelaskan lebih detil apa yang mereka hadapi. Menteri keuangan mereka menjelaskan tentang bagaimana system ekonomi yang ditempuh selama ini, dilanjutkan penjelasan the fed chairman tentang bagaimana mereka terus mencetak uang dari awang-awang (thin air) selama ini, dan yang terakhir penjelasan menteri luar negerinya mengenai mengapa mereka nyaris bangkrut – karena membiaya perang yang begitu mahal di Iraq, Afganistan, Lybia dan entah mana lagi.
Mendengar paparan team ini, kami berdiskusi sejenak dengan para santri dan para ustad. Di antara mereka ada yang bersikeras – jangan dibantu orang-orang seperti ini, mereka selama ini telah kurang ajar sama saudara-saudara Muslim kita di belahan dunia lain, bahkan mereka jelas-jelas bersekongkol dengan musuh abadi umat ini yaitu yahudi laknatullah – mengapa harus dibantu ?.
Tetapi kemudian kami ingat, bahwa ulama besar kita yaitu Imam As-Syahid Hasan al Banna dalam nasihatnya tentang urut-urutan amal pernah menyampaikan bahwa urutan terakhir dari amal kita adalah kalau kita sudah sampai bisa menjadi ustadziyatul ‘alam atau guru bagi dunia – siapa tahu dengan memberi nasihat ke rombongan Obama kali ini – kita bisa mewujudkan hal tersebut. Maka akhirnya kami sepakat untuk memberikan butir-butir solusi aplikatif bagi ekonomi mereka. Saya yang ditunjuk untuk menjadi juru bicaranya para ustadz dan santri Madrasah Al-Quran ini, akhirnya menyampaikan butir-butir ini ke Obama dan teamnya sebagai berikut :
Pertama : “ Anda harus berani menon-aktifkan uang Anda dan menggantinya dengan emas dan perak secepatnya. Semakin lama Anda pertahankan, akan semakin runyam ekonomi Anda dan juga ekonomi dunia. Untuk ini Anda tidak usah susah-susah memikirkan system penggantinya jauh-jauh. Ada LSM di negeri Anda yang siap membantu Anda yaitu GATA, bahkan LSM ini sudah sejak 10 tahun lalu menyiapkan draft pidato Anda untuk malam pembubaran Dollar. Pidato ini harus Anda bacakan ke rakyat Anda Ahad malam Senin sepulang Anda dari sini”.
Kedua : “Anda harus merubah segala system peraturan yang ada di negeri Anda agar terjadi pemerataan ekonomi. Agar tidak terjadi sejumlah orang di negeri Anda sangat kaya – tetapi Anda sibuk mencari hutangan baru untuk membiayai tunjangan sosial bagi rakyat Anda yang miskin, para veteran dlsb.”
Nggak sabar menunggu penjelasan saya, Obama menyela : “Tetapi bagaimana kongkritnya pak ? ”.
Begini, ada setidaknya tiga sektor yang akan membantu pemerataan ekonomi ini.
Pertama adalah sektor permodalan (capital) : “Di system capitalist Anda , capital adalah for the privilege of few, berjuta orang mengumpulkan uang di bank-bank Anda , tetapi yang bisa mengakses uang di bank tersebut untuk aktivitas produktif hanyalah beberapa orang saja – selebihnya masyarakat hanya menggunakan uang bank secara konsumtif yang membuat masyarkat Anda juga terlilit hutang kartu kredit dlsb. Berjuta orang rela menaruh uangnya di pasar-pasar modal Anda, tetapi pasar modal Anda hanya menjadi seperti casino raksasa – ini yang menjadikan rakyat Anda berjudi dengan modal yang mereka miliki – bukan menggunakannya untuk sektor riil !. Tentang hal ini Anda bisa mengirim team untuk belajar detil tentang koperasi dan BMT di negara-negara yang selama ini Anda sepelekan. Koperasi dan BMT inilah selama ini sudah belajar menggalang dan menggunakan capital secara bersama, capital yang dikumpulkan oleh orang banyak – juga harus available untuk orang banyak”.
Kedua adalah sektor sumber daya (resources) : “Jangan sampai sumber daya alam Anda – lagi-lagi hanya dikuasai untuk kepentingan segelintir orang. Fokus pengelolaan sumber daya Anda harus pada manfaat seluruh rakyat Anda. Bila selama ini ada sekelompok pengusaha yang menguasainya secara berlebihan hanya untuk kelompoknya sendiri atau bahkan dikuasai lahannya hanya untuk spekulasi – maka pemerintah Anda harus mencabut hak penguasaannya dan memberikan kepada pihak-pihak yang bisa memakmurkannya untuk kepentingan masyarakat luas.”
Ketiga adalah sektor pasar: “Tidak mudah untuk rakyat kecil bisa berusaha di negeri Anda. System standar, peraturan, perijinan dlsb. hanya mudah diakses lagi-lagi oleh pengusaha besar. Yang bisa berproduksi dan menjual dagangannya adalah orang yang sudah kaya. Pernah saya lihat di negeri Anda ada petani yang mau menjual sayur-mayur hasil panenannya langsung ke konsumen, malah di gerebeg oleh tentara layaknya petani ganja saja. Anda tuduh petani ini membahayakan rakyat Anda hanya karena menjual sayur –mayur yang belum disertifikasi. Oh, Please deh…Obama !. Anda harus fasilitasi agar rakyat miskin Anda bisa dengan mudah berproduksi dan menjual hasil produksinya – sama mudahnya dengan rakyat Anda yang kaya !. Akses pasar inilah sarana pemerataan kesejahteran rakyat Anda yang paling efektif – agar ekonomi Anda tidak digilas oleh musuh bebuyutan Anda yaitu China !”.
Sebenarnya saya mau meng-elaborate penjelasan saya lebih lanjut, tetapi santri-santri kecil kami sudah tidak sabar untuk ikut nimbrung menasihati Obama dengan celetukan-celetukannya : “Anda harus menghentikan perang di negeri-negeri yang bukan urusan Anda” ; “Anda harus berhenti menganggap pesantren-pesantren seperti ini adalah mengajarkan terorisme”. “Anda harus mendukung setulus hati Anda untuk kemerdekaan Palestina” ; “Anda harus berhenti membiayai Israel untuk memusuhi saudara kami di Palestina” ; “Anda harus ber-shahadat…” dlsb.dlsb.
Karena banyaknya celetukan yang bener dari para santri ini – sampai team Obama kewalahan mencatatnya. Kemudian saya minta anak-anak diam, untuk memberi kesempatan ustad-ustad ikut bicara. Maka dengan wibawanya ustadz-ustadz tersebut hanya mengungkapkan dua kata saja yaitu ‘Aslim Taslam’, karena Obama nggak ngerti maksudnya, dia bertanya : “Apa ? ”, sambil mendekatkan telinganya ke-arah ustad yang mengucapkannya, kemudian ustad tersebut memperjelas dalam bahasa Indonesia ‘Masuklah Islam Agar Anda Selamat !’. Dia mengangguk – tetapi kami tidak tahu apakah karena paham dan akan melaksanakannya atau sekedar ingin menyenangkan kami yang sudah sedari tadi menasihati mereka.
Sampai disini saya terbangun dari ‘mimpi’ dengan puas, meskipun hanya ‘mimpi’ – saya bersyukur telah berani ‘bermimpi’ menasihati orang yang konon paling berkuasa di muka bumi ini, namun justru karena kekuasaannya-lah ekonomi dunia kini berada di tebing jurang. Maka dibutuhkanlah nasihat yang tidak biasa untuk mereka, nasihat dari orang kecil di pesantren kecil – tetapi memiliki ‘mimpi’ yang besar – ‘mimpi’ untuk menjadikan santri-santri kami kelak sebagai ustadziyatul ‘alam . InsyaAllah.
Oleh Muhaimin Iqbal
Kamis, 25 August 2011 08:15
Ketika kami mencanangkan i’tikaf Wirausaha di Masjid “Gedebog” Daarul Muttaqiin Jonggol dengan tema “Membangun Kemakmuran Berbasis Al-Qur’an”, saat itu kami belum bisa membayangkan solusi besar apa yang kiranya bisa kita hasilkan dalam program i’tikaf kali ini. Namun sejak memasuki Malam ke 25 semalam, insyaallah solusi besar itu mulai terurai di depan mata. Solusi agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah sesudah kita, dan juga solusi agar anak-anak kita tumbuh sama tinggi dengan bangsa lain di dunia ini insyaallah sudah begitu jelas – tinggal menunggu tindakan nyata kita untuk mengimplementasikannya.
Salah satu solusi ini adalah hasil diskusi dengan peserta i’tikaf yang membahas surat An-Naba’ (Berita Besar) ayat ke 16. Ayat tepatnya berbunyi “wa jannaatin alfaafa” yang oleh penterjemah Departemen Agama diartikan sebagai “dan kebun-kebun yang rindang”. Mungkin karena keterbatasan bahasa Indonesia, ayat tersebut diatas diterjemahkan sama persis dengan ayat lain yang berbunyi “wa khadaa iqo ghulba” (QS 80 :30) yang terjemahannya juga “dan kebun-kebun yang rindang” .
Sangat bisa jadi Allah mempunyai maksud lain ketika menggunakan kalimat yang berbeda untuk menggambarkan “kebun-kebun yang rindang” tersebut. Bisa jadi alfaafa yang menurut ustadz saya dalam bahasa arab umumnya berarti “berkumpul, bercampur baur, berdekat-dekatan” untuk meggambarkan banyaknya pohon dalam kebun dlsb.; juga berarti nama jenis tanaman tertentu ?.
Di dunia ini memang ada tanaman luar biasa yang dalam bahasa Inggris disebut Alfalfa atau dalam bahasa latinnya disebut Medicago Sativa – bisa jadi ini adalah tanaman Alfaafa dalam ayat tersebut diatas !. Karena menurut sejarah tanaman ini sudah ada sejak 6,000 tahun sebelum Masehi , dan dokumen tertua yang ada menjelaksan tentang tanaman Alfalfa ini adalah dokumen di Turki yang ditulis kurang lebih 1300 tahun sebelum masehi. Jadi tanaman Alfalfa memang ada pada saat Al-Qur’an turun !.
Terlepas dari kebenaran yang masih perlu dikaji – yaitu apakah yang disebut di Al Qur’an sebagai “wa jannaatin alfaafa” ini adalah “kebun-kebun yang rindang” secara umum, atau secara khusus diarahkan untuk kebun Alfalfa. Yang jelas tanaman Alfalfa ini memang merupakan karunia yang luar biasa dari Allah untuk umat manusia di dunia.
Karunia tersebut antara lain adalah :
1. Akarnya yang sangat dalam masuk ketanah, selain menjadi penahan erosi yang sangat efektif juga dapat menyerap hampir seluruh unsur-unsur penting yang ada di dalam tanah.
2. Memiliki protein yang sangat tinggi, dari sebuah riset di Kroasia, tangkai Alfalfa bisa mengandung protein sampai sekitar 18% ; dan bahkan daunnya bisa diatas 30 %.
3. Dengan kandungan protein yang sangat tinggi tersebut, maka seluruh hewan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dlsb) akan sangat cepat tumbuh bila diberi makan dari Alfalfa ini.
4. Bahkan daun Alfalfa memiliki kandungan klorofil yang sangat tinggi yang bermanfaat untuk kesehatan manusia.
5. Dlsb.dlsb.
Lantas apa kaitannya tanaman Alfalfa ini dengan krisis berkurang tinggi-nya anak-anak Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya makan daging ?.
Daging dari sapi, kambing dan lain sebagainya akan mudah dihasilkan dengan murah bila ditemukan tanaman yang mengandung protein tinggi seperti tanaman Alfalfa ini. Tidak heran negeri seperti Amerika menanam tambahan sekitar 9.2 juta hektar tanaman ini setiap tahunnya untuk makanan ternak mereka. Nilai ekonomi tanaman Alfalfa di negeri tersebut sangat tinggi ( nomor ketiga setelah jagung dan kedelai) karena menjadi sumber pakan ternak yang sangat efektif ini.
Lantas mengapa tidak kita tanam saja banyak-banyak agar kambing dan sapi kita cepat tumbuh – agar daging menjadi murah dan terjangkau oleh seluruh rakyat ?. Tidak mudah memang, beberapa pihak di tanah air sudah mencobanya tetapi belum berhasil.
Saat ini kita bisa membeli benih tanaman ini dari luar tetapi yang sudah dibuat infertile oleh produsennya. Inilah jahatnya mereka, mereka tidak menghendaki tanaman yang luar biasa ini tumbuh di negeri seperti Indonesia – agar negeri seperti kita ini tetap tergantung pada negara-negara tersebut untuk terus impor daginng dlsb.
Tetapi one way or another , kita harus bisa menumbuhkan tanaman ini banyak-banyak di negeri kita ini, agar kita bisa beternak kambing dan sapi banyak-banyak secara efisien. Agar anak-anak negeri ini mampu makan daging secara cukup kedepannya. Apalagi bila benar Alfalfa ini adalah tanaman yang disebut di surat An-Naba’ tersebut diatas, pasti manfaatnya untuk seluruh umat manusia – tidak hanya bangsa negara maju saja.
Melihat potensi yang begitu besar ini, kami mengundang para ahli dan praktisi pertanian di seluruh Indonesia – yang memiliki pengetahuan atau pengalaman langsung dengan Alfalfa ini - untuk membantu kami membudi dayakan Alfalfa ini secara luas di Indonesia. Lahan percobaan seluas 1 s/d 2 ha sudah kami sediakan di Jonggol untuk ini; sedangkan untuk lahan produksi awal beberapa puluh bahkan beberapa ratus hektar akan kami sediakan di Jawa Timur. Kami terbuka untuk berbagai bentuk kerjasama yang baik untuk membangun kegenerasi yang kuat kedepan, generasi penghafal Al-Qur’an yang minum susu kambing secara cukup dan juga makan daging yang cukup.
Siapa tahu Anda bisa menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah besar yang terkait dengan sumber pangan bangsa ini kedepan. Solusi yang petunjuknya sudah begitu jelas ada di Al-Qur’an . InsyaAllah bersama kita bisa !.
Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 23 August 2011 06:35
Di bidang ekonomi, undang-undang korporasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Gorbachev di Uni Soviet bulan Mei 1988 menandai runtuhnya rezim ekonomi komunisme di negeri itu. Tahun berikutnya keruntuhan system ekonomi ini diikuti pula dengan runtuhnya system politik komunisme dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang ditandai dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989. Lantas apa kiranya tanda-tanda keruntuhan system kapitalisme ?, saya sendiri menjagokan keruntuhan Dollar sebagai perlambang runtuhnya kapitalisme itu. Dan kini seperti tahap akhir dari suatu permainan catur, Dollar tinggal memiliki dua langkah lagi sebelum terkena skak mat !.
Skenario kematian Dollar ini pernah saya sajikan link videonya di situs ini melalui tulisan saya The Day the Dollar Died, dalam film yang disiapkan dengan sangat serius oleh NGO National Inflation Association ini digambarkan bahwa Dollar akan mati manakala Quantitative Easing (QE) – bahasa lain untuk mencetak uang dari awang-awang – memasuki tahap QE 4.
Memang the Fed-nya Amerika sangat tidak suka disebut mereka telah melakukan QE 3 saat ini, tetapi tindakan mereka dengan menekan tingkat bunga yang sangat rendah sampai pertengahan tahun 2013 – membuat mereka harus membeli sangat banyak bond – lantas darimana uangnya ?, ya mencetak dari awang-awang tadi alias secara defacto mereka telah melakukan Quatitative Easing tahap 3.
Pasar tidak lagi percaya pidato atau statement, pasar meresponse tindakan dengan tindakan. Bila the Fed melakukan langkah-langkah yang berdampak pada menurunnya nilai Dollar, maka pasar bereaksi langsung dengan membeli asset-aset yang nilainya tidak lagi dipengaruhi oleh Dollar. Bentuk dari reaksi pasar ini antara lain adalah melonjaknya secara luar biasa harga emas sebulan terakhir – karena orang perlu sesuatu yang nilainya mampu bertahan .
Bahwasanya kapitalisme ribawi pasti hancur atau dihancurkan kita yakin karena sudah dikabarkan di Al-Qur’an (QS 2 : 276), masalah waktunya yang kita hanya bisa menduga atau memprediksinya – kita belum bisa tahu persis, tetapi tanda-tandanya nampak begitu dekat.
Megenai kapan waktunya Dollar akan mati ini memang tidak terlalu penting bagi kita, yang lebih penting adalah apakah kita siap menggantikannya bila kapitalisme ikut mati bersama matinya Dollar ini ?, Jangan sampai justru kita ikut menjadi korbannya karena selama ini begitu tergantung dengan system kapitalisme dengan Dollar-nya ini.
Nah agar kita bisa menghadirkan system penggantinya, berikut adalah dua langkah yang menurut saya patut kita persiapkan :
Pertama kita memiliki dua pegangan yang bila kita berpegang pada keduanya dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua pegangan ini tidak lain adalah Al-Qur’an dan Al- Hadits. Persiapan logis untuk hal ini adalah mendalami Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, mendalami pula hadits-hadits sahih sebagai rujukan atas berbagai hal urusan kehidupan tidak terkecuali urusan ekonomi ini.
Kedua harus dipahami bahwa kapitalisme tidak identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Memang banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan di era kapitalisme, tetapi tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bagian dari kapitalisme. Iptek adalah value neutral, bila mereka yang menggunakannya maka ia menjadi instrumen kapitalisme – bila kita yang menggunakannya maka ia bisa menjadi sarana untuk membangun system ekonomi yang mengikuti petunjukNya.
Teknologi web dan social media misalnya, sangat mungkin kita gunakan untuk mengaplikasikan system ekonomi yang memenuhi kriteria di ayat “ …agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang yang kaya saja diantara kamu…” (QS 59 :7). Dengan teknologi misalnya bisa saja pedagang busana kecil bersaing head to head dengan retailer fashion raksasa di dunia maya. Pengusaha perumahan yang hanya memiliki satu dua kluster rumah kecil – bisa saja bersaing langsung dengan perusahaan real estate besar yang tengah membangun kota mandiri, dlsb-dlsb.
Dengan teknologi, kesetaraan akses terhadap pasar dan sumber daya bisa dicapai, tinggal akses terhadap kapital saja yang perlu didandani. Ketika tembok yang terakhir ini – yaitu tembok yang membatasi akses terhadap kapital – berhasil di rubuhkan, akses terhadap kapital menjadi bukan lagi hanya milik golongan tertentu – maka lengkaplah sudah keruntuhan kapitalisme itu. InsyaAlah kita akan siap…!.
Page 7 of 23:« 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 » Last »