Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 22 August 2011 08:34
Bila dana ada dan kesempatan juga ada, nikmatnya shalat tarawih dan qiyamul lail yang panjang tentu tidak mengalahkan di Mekkah dan Madinah. Bukan hanya karena bacaan imamnya yang terasa sangat indah , tetapi pahala yang dijanjikan juga tidak ada di tempat lain. Namun karena I’tikaf di Mekkah atau Madinah hanya bisa dinikmati segelintir orang dari negeri ini, maka kami berusaha menghadirkan suasananya saja di Masjid Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin Jonggol. Sejak malam 21 kemarin, imam shalat tarawih dan qiyamul lail di masjid ini menggunakan ‘native speaker’ yang sehari-hari memang berbahasa arab – yaitu para hafidz dari Palestina.
Ayat-ayat Al-Qur’an di shalat tarawih dan qiyamul lail menjadi sangat indah ketika mereka ini yang membacanya, 40-an peserta I’tikaf di Masjid yang berasal dari seluruh Indonesia ini nampak bisa menikmati betul sholat tarawaih dan qiyamul lail-nya. Bahkan bukan hanya makmumnya yang menikmati, sang imam-pun menuturkan ke saya dia sendiri sangat menikmati bacaannya di Masjid ini pada saat qiyamul lail.
Masjid yang jauh dari perumahan penduduk dan jauh dari jalan raya ini, di malam hari sama sekali tidak terganggu oleh suara kendaraan dan kebisingan lainnya. Bahkan di siang hari kalau ada suara motor atau mobil itu karena adanya motor atau mobil yang memang ada urusan dengan komplek Jonggol Farm dimana masjid Daarul Muttaqiin berada.

Padatnya acara peserta i’tikaf juga membuat waktu terasa berjalan cepat, pagi hari sampai dhuhur peserta kami pandu untuk meresponse ayat-ayat Al-Qur’an dengan action plan yang nyata – dalam bentuk rencana-rencana usaha memakmurkan bumi dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Habis dhuhur dan habis ashar peserta bergiliran memperbaiki bacaan Al-Qur’an dari syeh yang native speaker dan juga imam tersebut diatas. Begitu seterusnya…
Di lokasi yang sama, di Masjid ini pula peserta I’tikaf dapat menyimak calon-calon hafidz kecil yang lagi tadarusan dan membacakan terjemahannya secara bergiliran – maka insyaallah lengkaplah ‘hidangan’ Al-Qu’ran hadir di masjid ini.
Namun juga kami sadari bahwa apa yang bisa kami sajikan juga bukannya gading yang tak retak, ada kekurangan disana-sini. Namanya masjid di komplek peternakan, tentu sesekali juga ada bau-bau kambingnya. Air untuk keperluan mandi, wudhu dan air minum yang dimurnikan dari satu sumber mata air kecil yang sama – juga sering membuat kami was-was; cukup nggak ya untuk melayani tamu-tamu kami yang datang dari tempat yang jauh – tiada lain hanya karena ingin mencoba beribadah di masjid ini.
Terlepas dari semua kekurangan itu, tiada henti kami bersyukur bahwa masjid “gedebog” yang digagas setahun lalu tersebut – kini benar-benar terwujud dan mulai nampak tanda-tanda kemakmurannya. Maka seperti inilah kami memberi inspirasi kepada para peserta I’tikaf yang rata-rata masih menjadi pegawai namun juga ingin pindah kwadrant untuk menjadi para entrepreneur – insyaallah bila mereka secara istiqomah bener-bener melaksanakan action plan-nya yang disusun selama I’tikaf kali ini – mereka akan datang lagi kesini tahun depan sebagai pengusaha…, Amin !.
<div
Related Post for Mereka Sudah Merobohkan Rumah-Rumah (System) Mereka Dengan Tangan Mereka Sendiri…
Alhamdulillah Ongkos Naik Haji Turun…!Indahnya Mulai Usaha Dengan Bootstrapping…
Modal Usaha : Jualan Cendol Senilai Rp 400 juta, Siapa Mau…?
Mereka Sudah Merobohkan Rumah-Rumah (System) Mereka Dengan Tangan Mereka Sendiri…
